Di “Kegelapan Lockdown”

Written by | Opini

112

Oleh M. Anwar Djaelani

 

Inpasonline.com-Wabah penyakit menular terjadi di masa lalu dan juga sekarang. Saat kita dikurung situasi tak nyaman akibat wabah, itulah musibah. Untuk itu kita harus menghadapinya dengan sabar dan disertai usaha mengatasinya. Juga, berupaya mengambil ibrah.

 

Buah Muhasabah

Di antara cara mencegah meluasnya penularan penyakit, dengan lockdown. Jika dikaitkan usaha menahan penyebaran Covid-19 –penyakit akibat virus Corona-, lockdown adalah mengunci seluruh akses masuk maupun keluar dari suatu daerah atau negara.

Lockdown adalah protokol darurat yang digunakan untuk mencegah orang-orang meninggalkan atau masuk area tertentu. Kebijakan ini dibuat oleh pejabat yang berwenang dan merupakan perintah resmi karena adanya situasi berbahaya.

Wabah Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO, Organisasi Kesehatan Sedunia. Maka, banyak pihak melakukan lockdown. Misal, pada Kamis 26/03/2020 pagi, www.republika.co.id mengabarkan: “Makkah, Madinah, dan Riyadh Ditutup Mulai Pukul 3 Sore”. Itu, dinyatakan pejabat berwenang. Implementasi ketat jam malam ditujukan untuk membatasi penyebaran virus Corona. Pemantauan pelanggaran akan dilakukan petugas keamanan di jalan. Siapapun yang menentang, akan ditindak.

Lockdown punya sisi positif dan negatif. Lockdown yang bermakna sebagai karantina wilayah agar tidak ada perpindahan orang -baik masuk maupun keluar- di sebuah wilayah tentu punya banyak implikasi. Dalam ulasan Rendy Saputra bertanggal 23/03/2020, pergerakan manusia akan melambat, entah sampai kapan. Manusia akan mengurangi mobilitas dan itu berarti secara langsung akan mengurangi transaksi. Akibatnya, putaran ekonomi melambat (dan mungkin saja, pen.) bahkan berhenti.

Gelap terasakan di kajian Rendy Saputra tersebut. Terkait ini, adakah pelajaran dari “gelap”? Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan” (QS Al-Hasyr [59]: 2).

BACA JUGA  Tamasya ke Taman Surga di Majelis Ilmu

Kita lalu ingat Nabi Yunus As, yang pernah merasakan tiga lapis kegelapan yang teramat pekat: Gelap di dalam perut ikan, di kedalaman laut, dan di malam hari. Tapi, lebih gamblang, apa gerangan yang menimpa Yunus As?

Mari renungkan: “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya). Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim’.” (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 87).

Yunus As seorang Nabi. Setelah lama berdakwah, tak ada tanda-tanda berhasil. Umatnya kokoh dalam kekafiran. Dia kecewa dan bahkan marah. Lalu, tanpa memohon petunjuk Allah, dia mengambil keputusan ekstrim: Pergi ke wilayah lain.

Berjalanlah Yunus As dan sampai ke sebuah pelabuhan. Kepada sebuah kapal yang siap berangkat, Yunus As menumpang. Saat di tengah laut, ombak bergulung-gulung dahsyat dan kapal yang sarat muatan itu terasa akan karam. Nakhoda kapal memerintahkan membuang barang-barang yang berat. Langkah itu tak cukup berhasil. Berikutnya, penumpang harus dikurangi dengan cara diundi. Hasilnya, Yunus As.

Di momentum ini, sadarlah Yunus As. Bahwa Allah sedang menegur dia atas keputusan yang salah, yaitu meninggalkan kaumnya. Berdasar hal itu, dengan penuh tanggung-jawab, dia langsung melompat ke laut. Selesai-kah urusan?

Di laut, dia langsung ditelan seekor ikan yang besar. Ikan itu tak menggigitnya. Meski sangat gelap dia “aman” di dalam perut ikan, sebuah situasi yang memungkinnya sebagai orang beriman untuk makin menyadari bahwa inilah cara Allah mengingatkan dia. Inilah jalan Allah dalam memberikan pelajaran kepadanya, lewat sebuah ujian yang tak ringan: “Lockdown”, terkunci di kegelapan.

BACA JUGA  Merancang Pendidikan di Abad Inovasi

Tiga hari tiga malam dalam kegelapan, Yunus As merenung. Dia mengaku salah, pergi meninggalkan tugas dan tanggung-jawab. Sebagai orang beriman, Yunus As lalu bertobat. Dia memohon ampun kepada Allah.

Tobat Yunus As diterima. Si ikan besar lalu menepi ke pantai dan mengeluarkan Yunus As. Setelah sehat, Yunus As kembali berdakwah dan kali ini disambut positif oleh kaumnya. Perhatikanlah ayat ini: Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 88).

Kembali ke situasi terakhir kita, saat mulai banyak orang merasakan “gelap”. Benar, “gelap”, sebab yang terpapar Covid-19 bertambah. Juga, pergerakan fisik warga masyarakat menjadi terbatas, perputaran ekonomi terganggu, dan hal-hal lain yang tak enak. Atas hal itu, mari merenung: Sebagai orang beriman, seperti Yunus-kah kita yang diuji Allah dengan “gelap” karena “meninggalkan”-Nya?

“Yunus”-kah kita? Lihat, berkali-kali kita berumroh, sementara anak yatim yang tinggal tak jauh dari rumah tak kita perhatikan dengan semestinya.

“Yunus”-kah kita? Perhatikan, bahwa untuk membantu dana pengembangan dakwah, kita menunda jawaban sekian hari kepada panitia yang datang ke rumah membawa map proposal. Sementara, saat membeli baju plus asesori berkelas, makan dengan menu istimewa di tempat bergengsi, atau berbelanja keperluan yang tak mendesak, tak kita batasi jumlah pengeluarannya dan tak perlu berfikir panjang mengeluarkannya.

“Yunus”-kah kita? Cermatilah, di tengah-tengah situasi pahit, jangankan membantu sesama yang sedang kesulitan, bahkan tanpa perasaan bersalah kita menimbun aneka barang. Tumpukan barang itu untuk kita konsumsi atau pakai sendiri. Juga, untuk dijual dengan harga tinggi nanti saat banyak orang membutuhkannya.

Sila teruskan muhasabah di atas. Jika jujur, bisa panjang daftar itu. Teruskanlah, meski hanya di dalam hati. Jika cara terakhir ini yang dipilih, muhasabah akan menjadi rahasia antara kita dan Allah.

BACA JUGA  Ekstrimisme Teologi Politik Syiah

 

Jalan Itu

Mari, persering menunduk, terutama di saat sulit seperti sekarang ini. Menunduk di suasana menjalarnya wabah penyakit. Lalu, di tengah-tengah “kegelapan lockdown”, jadilah Yunus As yang dengan sepenuh hati bertobat: “Laa ilaaha illaa Anta. Subhaana-Ka, innii kuntu minadh-dhoolimiin” (Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dholim). Semoga dengan cara itu, bersama ikhtiar lainnya, Allah segera memberikan jalan keluar. []

 

 

 

Last modified: 28/03/2020

One Response to :
Di “Kegelapan Lockdown”

  1. Setya says:

    Matur nuwun ilmunya Ustad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *