Dari Hegemoni Globalisasi Hingga Jakarta Yang Sakit

Hegemoni Globalisasi

Menurut para pakar tata ruang banjirnya kota Jakarta ini disebabkan sudah semakin rusaknya pengelolaan tata ruang kota, sebut saja Yayat Supriatna pakar tata ruang dari Univeristas Trisakti mengatakan bahwa kejadian yang melanda kota Jakarta diakibatkan oleh para pelaku usaha yang sudah terlalu banyak melakukan invasi mengalihfungsikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) menjadi lokasi komersial, menurut beliau Jakarta sudah mengalami obesitas yang luar biasa disebabkan  menjamurnya Mal, Apartemen dan Bangunan-bangunan tinggi lainnya.
Perilaku dari para pengusaha ini jika ditelusuri sebenarnya telah menjadi korban oleh suatu “Makhluk” yang bernama Globalisasi, bangsa kita sepertinya terlalu ber-euphoria dalam menyambut istilah asing ini tanpa diteliti secara mendalam dampak apa yang akan diakibatkan oleh globalisasi ini.

Istilah globalisasi pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt pada tahun 1985, istilah ini digunakan untuk merujuk kepada politik ekonomi yang menganut sistem politik perdagangan bebas, globalisasi merupakan sebuah konsep terintegrasinya masyarakat lokal ke dalam komunitas yang global dalam segala bidang, David Yafee mengatakan cakupannya kepada semua ekspansi yang menggila di seluruh dunia yang mengacu pada perluasan dan penguatan arus perdagangan, modal, teknologi dan informasi internasional dalam sebuah pasar global tunggal yang menyatu.

Menurut Kavaljit Singh proses globalisasi ditandai oleh lima perkembangan pokok. Pertama, pertumbuhan transaksi keuangan internasional yang cepat, kedua, pertumbuhan perdagangan yang cepat terutama pada perusahaan-perusahaan multinasional, ketiga, gelombang investasi asing langsung (FDI) yang mendapat dukungan luas dari para pengusaha multinasional, keempat, timbulnya pasar global dan yang kelima, penyebaran teknologi dan berbagai pemikiran sebagai akibat dari ekspansi sistem transportasi dan komunikasi yang cepat.
Jika melihat dari kelima unsur tersebut, globalisasi ini sangat menekankan kepada kemampuan yang semakin meningkat di seluruh dunia dari perusahaan-perusahaan dan negara-negara maju yang sebagian besar bersifat kapitalistik kepada negara-negara berkembang. Dalam teori Marxisme faktor kekuatan pendorong utama bagi globalisasi ini adalah kebutuhan perusahaan untuk memperlihatkan kemampuannya memperoleh keuntungan yang semakin meningkat melalui cengkraman imperialisme yang semakin lama semakin jauh dari jangkauan, kemudian faktor lainnya adalah kebutuhan bagi perusahaan, negara dan media yang menopang mereka untuk mendukung usaha mempertinggi keuntungan dengan cara membentuk hegemoni budaya baru yang homogen dibelahan dunia ketiga.
Hegemoni budaya baru yang sengaja “dipaksakan” oleh dunia barat menurut Stackhouse ada tiga, salah satu diantaranya adalah budaya materialisme. Budaya ini telah memberikan sebuah injeksi baru yang mendorong orang untuk selalu berproduksi dan mengonsumsi, manusia hanya disibukkan oleh pengumpulan materi semata, hal yang menjadi penilaian untuk kebahagiaan seseorang hanyalah kegelimangan materi yang pada akhirnya menggeser keberadaan “Tuhan” dalam kehidupan manusia.

Jakarta Yang Sakit

Melihat fenomena yang terjadi pada saat ini, kita menjadi teringat kisah yang diungkapkan oleh Al-Qur’an yang terjadi pada kaum sebelumnya “Sesungguhnya bagi kaum  Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun disebelah kanan dan disebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan maha pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir” (QS Saba :15-17).

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ayat diatas, kaum Saba’ mempunyai negeri yang begitu makmur dan sangat luar biasa pada masa itu, mereka dikatakan oleh Allah hanya perlu memakan rezki yang dianugerahkan oleh-Nya kemudian bersyukur kepada-Nya, namun ternyata mereka akhirnya berpaling. Mereka menganggap bahwa semua yang terjadi di negeri itu adalah hasil dari buah pemikiran mereka. Dalam Al-Qur’an banjir yang melanda kaum Saba’ disebut “Sail al-arim” yang berarti sebuah banjir yang datang bersamaan dengan runtuhnya bendungan, menurut Abdullah Yusuf Ali, seorang mufassir modern menyebutkan dalam bukunya “The Holy Qur’an” hal ini terjadi dikarenakan keserakahan manusia yang melakukan penggundulan tanaman dan pembangunan yang mengabaikan penyerapan air dan pengaturan saluran, dengan demikian ketika hujan turun bendungan tersebut tidak mampu untuk menahannya (Abdullah Yusf Ali, The Holy Qur’an hal:1104).

Dengan banjir tersebut negeri kaum Saba’ yang dahulunya sangat subur menjadi negeri yang hancur dan tandus yang hanya ditumbuhi oleh pohon-pohon yang tidak bisa dimanfaatkan oleh mereka dan pada akhirnya membuat mereka tidak betah tinggal di negeri tersebut.

Penggambaran yang diungkapkan oleh Al-Qur’an seyogyanya menjadi renungan yang mendalam untuk kita, permasalahan yang terjadi pada kaum Saba’ itu boleh jadi merupakan gambaran dengan apa yang terjadi pada kota Jakarta saat ini. Akibat dari hegemoni globalisasi yang kita tidak sanggup mengendalikannya sehingga membuat kota Jakarta yang dahulunya indah kini menjadi sakit ditumbuhi oleh mal-mal yang megah, apartemen-apartemen yang mewah serta bangunan-bangunan yang menjulang tinggi demi mengikuti globalisasi yang memberikan kepada kita kemajuan yang fana, saat ini kita lebih mempercayakan tata kelola bumi ini kepada akal manusia, padahal, jika kita bisa lebih memahami manusia tidak hanya dianugerahi akal yang luar biasa oleh Allah SWT akan tetapi kita juga dianugerahi nafsu yang luar biasa pula sehingga akal yang dirasuki oleh hawa nafsu ini yang mengakibatkan hancurnya peradaban manusia. Wallahu A’lam

Peminat masalah keagamaan

BACA JUGA  Ijma’ Tentang Konsep Kesesatan: Kebutuhan Umat (Pelajaran dari Kasus Ahmadiyyah)
No Response

Leave a reply "Dari Hegemoni Globalisasi Hingga Jakarta Yang Sakit"