Dakwah Islam di Tanah Jawa

No comment 964 views

Dari sini istilah pribumisasi Islam, yang sering diartikan oleh beberapa kalangan sebagai akulturasi Islam dan Kejawen menjadi tidak tepat. Sebab dalam tembang maupun geguritan karya para ulama Jawa itu lebih merupakan pembahasaan dakwah Islam secara Jawa[1]. Sebagaimana sabda Rasulullah untuk berbicara dalam bahasa kaumnya. Sehingga kita masih merasakan, mengglobalnya Islam tidak disertai dengan punahnya lokalitas cita rasa bahasa dan budaya.

Dalam hal ini, dengan mengutip Khurshid Ahmad, Alwi Shihab menyatakan bahwa “Islam has been an absorbing religion rather than converting religion” (Islam lebih merupakan agama yang menampung bukan yang mengkonversikannya).[2] Saat ini kita dapat melihat, orang Islam Iran tetap dengan bahasa Persia, Pakistan tetap Urdu, dan Nusantara tetap dalam rumpun bahasa melayu. Tetapi masing-masing bahasa yang telah di Islamkan itu mampu membahasakan ajaran Islam dengan baik.

Kita juga bisa melihat bagaimana varian bentuk busana muslim yang sangat beragam, mulai dari sarung dan peci khas melayu, baju koko yang beraroma Tionghoa, jubah dan kafayeh ala Timur Tengah demikian juga untuk busana muslimahnya. Meski demikian semua mengerucut dalam satu konsepsi Islam tentang menutup aurat. Sangat berbeda dengan modernisasi yang datang sebagai narasi besar yang mengeliminasi narasi-narasi kecil. Demikian juga wacana untuk menghidupkan seni tradisi saat ini lebih beraroma komersial dan kapitalistik, yakni untuk pundi-pundi pariswisata. Jadi sudah tidak bisa dijadikan cermin untuk melihat jiwa dari masyarakat.

 

Ulama, Agen Kreatif Islamisasi Budaya

Proses kreatif dalam ber Islam, seperti yang dicontohkan para ulama pembawa Islam di Jawa telah mampu menjadikan Islam sebagai substansi budaya Jawa. Perubahan tradisi dari sesaji (persembahan untuk makhluk halus) menjadi selametan (bersyukur pada Allah SWT) bukan sekedar Islamisasi mantra menjadi do’a, akan tetapi lebih sebuah perubahan radikal dalam kosmologi Jawa. Pertunjukan wayang, sebagai kebudayaan yang paling populer di masyarakat Jawa juga tidak luput dari proses Islamisasi. Menurut Kuntowijoyo wayang telah mengalami demitologisasi :

Justru wayang “mencemari” Hiduisme dengan mengadakan demitologi secara besar-besaran. Ketika Betara Guru berebut perempuan dengan Betara Wisnu, Ketika Betara Guru iri hati kepada Arjuna karena sebutannya sebagai laki-laki sejati di jagad raya, ketika dewa-dewa dikalahkan raksasa Niwatakawaca dan harus meminta bantuan Arjuna, itu semua sebenarnya adalah “pelecehan” terhadap pantheon Hindhu. Wayang menjadi tidak lebih dari fairy tales yang banyak terdapat dalam kebudayaan Islam, seperti Jin, Raksasa dan tukang sihir.[3]

Posisi kisah dalam wayang menjadi sejajar dengan dongen Kancil Nyolong Timun, yang tidak lagi menjadi pandangan metafisika orang Jawa, tetapi lebih sebagai tempat untuk belajar hikmah tentang kehidupan. Oleh karena itu Jawa mempunyai konsep tokoh dan pakem tersendiri yang berbeda dengan epic Bharatayudha dan Ramayana yang ada di India. Lakon Petruk dadi Ratu, Dewaruci, Dewa Srani dan masih banyak lagi lakon yang asli Jawa.

Pada masa kecil dulu, saya lebih akrab dengan istilah sembahyang, suwarga, neroko, bukan sholat, jannah dan naar. Akan tetapi definisi dari sembahyang, suwargo dan neraka, sama persis dengan sholat, jannah dan naar, tidak bisa diartikan lain. Sebagaimana halnya konsep ta’awun yang dijabarkan dalam budaya gotong royong. Dengan demikian, secara kejiwaan tertanam bahwa Jawa adalah Islam. Menjadi 100 % Jawa, sekaligus menjadi 100 % Islam adalah sebuah keniscayaan. Jadi apabila ada orang Jawa yang akhlaknya tidak Islami, bukan berarti ia bukan Islam, tetapi ia belum bisa ber Islam dengan baik. Sehingga masyarakat Jawa baik itu priyayi maupun abangan di masa tuanya berubah menjadi santri yang rajin ke masjid, yasinan dan khataman.

Pertemuan dan dialog Islam dengan Jawa memang telah berlangsung sejak lama, dimulai sejak kunjungan utusan Khalifah Mu’awiyah pada masa pemerintahan Ratu Sima di Kerajaan Kalingga[4]. Dilanjutkan naiknya Syekh Subakir (yang disimbolkan sebagai tokoh Semar Badranaya) yang menjadi penasehat Raja Smaratungga[5], kemudian Syekh Maulana Ali Syamsu Zein, penasehat politik Raja Jaya Baya[6] dan terus berlangsung hingga ulama Muhammadiyah yang njawani, Almarhum KH. AR Fakhruddin[7].

 

Penutup

Memang ada anomali, beberapa pihak ingin mempertahankan akulturasi budaya yang sinkretis.  Akan tetapi itu hanya ekslusif di lingkungan kraton Yogya dan Solo, yang menurut Andre Moller dalam disertasinya tentang Ramadhan di Jawa, hanya merupakan wajah kecil Islam[8] Jawa, jadi tidak  bisa digebyah uyah. Sayangnya, saat ini, pemisahan Islam dan Jawa, yang getol dilakukan oleh para orientalis dan zendhing, seperti Peacock[9] yang mengatakan bahwa Islam hanyalah kulit ari masyarakat Jawa, atau Zoetmoelder yang menyatakan bahwa mistisisme Jawa asalnya dari Hindhu bukan Islam, mulai diamini oleh para aktifis Islam[10]. Slogan kembali ke Al Qur’an dan Sunnah tidak lagi menjadi modal dakwah dan merubah, tetapi lebih menjadi sarana konfrontasi antara Islam dengan Jawa.

Oleh karena itu merumuskan strategi budaya untuk melanjutkan proses Islamisasi Jawa sudah seharusnya menjadi agenda besar ormas maupun gerakan Islam. Sebab Jawa bersifat kata Moller berlakuu ortopraks Islam, yakni meski pelan tapi terus  bergerak menuju Islam. Sebagaimana jaman saya kecil dulu kalau ada suami istri yang bertengkar, Pak Gerno yang menjadi sesepuh kampung selalu menasehati dan membuka kalimatnya dengan Ngendikane njeng Sunan Kalijogo…dan seterusnya. Dengan sebuah intensitas pembacaan budaya, diharapkan lagu para aktifis bukan hanya satu “Di sini bid’ah, di sana bid’ah,…… di sini syirik, di sana syirik. Sebuah lagu tegas yang membedakan haq dan bathil akan tetapi miskin kreatifitas dan problem solving dalam masyarakat yang belum ter-Islamkan secara penuh. Wallahu ‘alam  bish showwab.

 

Daftar Pustaka

Alwi Shihab, 1998,  Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristendi Indonesia, Mizan, Bandung

Andre Moller, 2002, Ramadhan di Jawa, Pandangan dari luar, Nalar, Yogyakarta

Fauzan Shaleh, Dr, 2004, Teologi Pembaruan : Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX, Serambi, Jakarta

Hamka, Prof. Dr, 2005 (cet. V), Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional, Singapura

Kareel A. Steenbrink, 1988, Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat, Kajian Kritis Mengenai Agama di Indonesia, IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta.

Muhammad Sholikhin, 2005, Islam Jawa : Dari Prabu Jayabaya Sampai Berdirinya Kerajaan Demak, dimuat dalam Jurnal Dinamika Islam dan Budaya Jawa “Dewaruci” edisi 10 tahun 2005

 




[1] Kareel A. Steenbrink, 1988, Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat, Kajian Kritis Mengenai Agama di Indonesia, IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, hal. 208 secara khusus menyebutkan bahwa suluk dan serat merupakan sajak yang dijadikan sebagai alat dakwah. Beberapa yang terkenal diantaranya suluk sukarsa, suluk wujil dan suluk malang sumirang.

[2]Alwi Shihab, 1998,  Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristendi Indonesia, Mizan, Bandung, hal. 25

[3] Kuntowijoyo, Pengantar Dalam Buku Alwi Shihab, Membendung Arus” hal. XXVI

[4]  Prof. Dr. Hamka, 2005 (cet. V), Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional, Singapura, hal. 671-672. Menurut Hamka, dalam catatan Tiongkok I Tsing menyatakan bahwa di “Cho Po” (Jawa) ada kerajaan bernama Ho – Ling (Kalingga). Pada tahun 674-675, diangkatlah seorang perempuan menjadi ratu, bernama Si Ma. Keamanan, kemakmuran dan keadilan ratu tersebut telah menarik minat Raja Ta-Cheh. Raja Ta-Cheh adalah nama yang diberikan orang Tiong Hoa kepada seorang Raja Arab. Bila dikaitkan dengan sejarah Kekhalifahan, pada masa itu adalah masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Dalam sejarahnya, Mu’awiyah memang membentuk sebuah badan penyelidik untuk pergi melihat-lihat negeri orang.

[5] Muhammad Sholikhin, 2005, Islam Jawa : Dari Prabu Jayabaya Sampai Berdirinya Kerajaan Demak, dimuat dalam Jurnal Dinamika Islam dan Budaya Jawa “Dewaruci” edisi 10 tahun 2005. Informasi tentang Syekh Subakir ini berasal dari Kitab Asrar, adalah karya dari Pangeran Wijil tahun 1743 M. Syekh Subakir digambarkan sebagai seorang yang penuh karomah yang menancapkan bendera Islam di kawasan Gunung Tidar pada tahun 800 – 825 M, pada masa pemerintahan raja Samaratungga di sekitar pusat kekuasaan Merapi dan Merbabu. Kedatangan Syekh Subakir ini merupakan rombongan emigran Arab yang datang ke Pulau Jawa dan mendapatkan kesuksesan besar. Dalam kitab Asrar tersebut dinyatakan bahwa Syekh Subakir berhasil meng Islamkan raja Samaratungga. Dalam jangka Jaya Baya karya R. Ng. Rannggwarsito, masuknya Islam di Jawa ada di era kalabrata, tahunnya merujuk angka 701 – 800 C atau 779 – 800 M. Dalam tahun tersebut dimulai adanya berbaring panatagama (pembeberan ajaran agama). Hal ini bersamaan dengan datangnya gelombang emigran arab yang kedua di P. Jawa.

[6]  Muhammad Sholihin, Ibid. Era Kedatangan Maulana Ali Syamsu Zein ini disebut era Kala Teteka (1101 -1200 C = 1179 – 1278 M). Dalam kitab Asrar, terdapat beberapa point yang layak dicermati (1) Kitab Musarrar ing Anggit, duk sang Aji Jayabaya, Ing Dhaha wau kuthane, anggeguru ngelmu cipta (tasawuf), aking Ngrum (Rumawi) baoniro, pandhita kalok kang muruk (Maulana Ali Syamsu Zein), ngelmu cipta sasmita. (2) Pada bagian lain disebutkan Yen Islama kadi Nabi, ri Sang Aji Jayabaya, cangkramen arga wus suwe, amanggih marang ajar Padhang, winon tapane gentur, dadi barang kang cinipta.

[7] Oleh Prof. Damarjati Supajar, KH. AR Fahruddin sering diidentikkan dengan tokoh Semar karena kesederhanaan, keluasan ilmu serta kebijaksanaannya.

[8] Andre Moller, 2002, Ramadhan di Jawa, Pandangan dari luar, Nalar, Yogyakarta. Pada hal. 3 moller mengutip Ron Hatley, “gambaran tentangt kebudayaan Jawa seringkali dilihat hanya dari kesultanan Jawa atau dari pusat kejawen, padahal Jawa jauh lebih bervariasi daripada gambaran-gambaran yang diajukan para peneliti ” Selanjutnya Moller setelah melakukan perjalanan di banyak daerah di Jawa menyimpulkan bahwa “sifat Islam di Jawa kontemporer beraneka ragam dan sering disalahpahami, bahwa sejarah Islam di Jawa menunjukkan Islamisasi yang pelan-pelan (tapi pasti dan semakin cepat) menuju Islam ortodhoks”’ (hal. 48)

[9]  Menurut James L. Peacock dalam Indonesia : An Anthropological Perspective, sebagaimana dikutip Dr. Fauzan Shaleh, 2004, Teologi Pembaruan : Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX, Serambi, Jakarta, hal. 41. Muslim Abangan mungkin telah mengucapkan syahadat, tetapi mereka tidak memenuhi satu pun dari rukun Islam lainnya. Bahkan Drewes dalam The Struggle between Javanism and Islam as illustrated by Serat Darmagandhul (Dr. Fauzan Shaleh, Ibid. hal. 50) menyatakan bahwa perasaan sebenarnya orang Jawa terhadap Islam tercermin dalam serat Darmagandhul. Hal ini dikuatkan lagi oleh Mark Wordward dalam teorinya tentang wadah dan isi, yakni perbedaan realitas lahir dan batin pada orang Jawa. Gertz, membagi masyarakat Jawa menjadi santri, abangan dan priyayi. Menurutnya hanya kelompok santri yang betul-betul ber Islam. 

[10] Banyak aktifis Islam saat ini yang memandang cukup dengan Al Qur’an dan Sunnah dalam mempelajari Islam. Akibatnya kajian lain di luar materi Aqidah dan Syari’ah, seperti Sejarah dan Budaya kurang mendapatkan porsi. Hal ini dapat kita lihat dari ungkapan Ustadz Abdullah Sungkar, pendiri pesantren Ngruki yang dalam beberapa kajiannya menyebutkan Islam di Jawa yang ada saat ini (banyak penyimpangan, bid’ah dsb) gara-gara walisongo. Hal ini tentu saja merupakan sebuah reduksi pembacaan sejarah Islamisasi Jawa yang sangat panjang dan berhasil merubah sebuah pusat budaya Hindhu dan Budha yang mapan menjadi Islam. Sebuah prestasi tersendiri dalam dunia dakwah, bahkan di India, dimana Islam sempat berkuasa selama 600 tahun oleh Dinasti Moghul, rakyat India yang memeluk agama Islam hanya kurang dari 25 %, bandingkan dengan Jawa yang prosentasenya mencapai lebih dari 90 %.

BACA JUGA  Filsafat Islam dalam Tinjauan Historis (1)
No Response

Leave a reply "Dakwah Islam di Tanah Jawa"