Cinta Ahlul Bait kepada Sahabat Nabi Saw

No comment 1064 views

Oleh: Kholili Hasib

imam6Dalam pandangan Syiah Imamiyah, Sahabat Nabi Saw dan Ahlul Bait digambarkan sebagai dua faksi yang bertentangan. Pada pemilihan Khalifah pertama pasca wafatnya Rasulullah Saw misalnya, keterlambatan Ali bin Abi Thalib dalam membai’at Abu Bakar r.a ditafsirkan secara gegabah sebagai bentuk penolakan Ali, mewakili Ahlul Bait, terhadap Abu Bakar r.a. Ahlussunnah wal Jama’ah menilai secara adil dan proporsional. Keterlambatan Ali itu karena Ali r.a masih sibuk mengurus jenazah Rasulullah Saw. Tidak ada penolakan, justru mendukung penuh. Buktinya, Ali bin Abi Thalib r.a bersedia menjadi penasihat Khalifah.

Hubungan antara Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib sangat erat. Setelah Abu Bakar meninggal dunia. Istrinya yang bernama Asma’ binti Umais dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib dan dikaruniai dua putra yaitu Yahya bin Ali dan Muhammad al-Ash’hor bin Ali. Perkawinan itu dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra.

Putra Abu Bakar yang bernama Muhammad menjadi anak asuh Ali bin Abi Thalib setelah Abu Bakar wafat dan Ali meminang Asma’ binti Umais. Hubungan erat ini berlanjut dengan pernikahan Husein bin Ali, putra Ali yang kedua, dengan Hafshoh binti Abdul Karim. Hafshoh adalah cucu dari Abu Bakar.

Ketika sekelompok Sabaiyah, pengikut Abdullah bin Saba’, (pencetus Syiah) menemui Ali seraya mencaci Abu Bakar, Ali berkata kepada mereka, “Aku tidak senang kalian menjadi tukang laknat dan pencaci” (Mustadrak al-Wasa’il, juz 12, hal. 306).

Dalam kitab Nahjul Balaghah, kitab yang diyakini kumpulan pidato Ali, dikatakan bahwa Ali memuji Abu Bakar dan Umar sebagai Khalifah. Beliau mengatakan, “Orang-orang Islam telah memilih setelah Rasulullah saw seorang dari mereka (Abu Bakar), lalu dia bersahaja dan dia berusaha sekuat tenaga dan semangat yang tinggi. Kemudian orang-orang Islam mengangkat seorang pemimpin, yaitu Umar, lalu dia pun berbuat adil dan istiqamah” (Ibnu Abi al-Hadid,Syarah Nahj al-Balaghah, juz 4, hal. 82).

BACA JUGA  Jangan Tergiur Aliran Sesat!

Demikian juga hubungan Ali dengan Umar bin Khattab. Ali merupakan penasihat utama Khalifah Umar selama Umar menjabat sebagai Khalifah. Bahkan, Umar diambil menantu oleh Ali. Yakni Ali menikahkan putrinya bernama Ummu Kultsum (hasil pernikahan denggan Fatimah) dengan Umar bin Khattab.

Keturuan-keturunan Ahlul Bait pun juga mewarisi Ali dalam mencintai dan penghormatannya kepada para Sahabat Nabi Saw. Sahabat Nabi Saw merupakan mitra dakwah Ahlul Bait yang paling intim dalam meneruskan perjuangan Nabi Muhammad Saw. Siapa saja yang menghina sahabat, sama saja mencederai Ahlul Bait.

Dalam sebuah riwayat dari Imam Daruqutni diceritakan bahwa Ja’far al-Shadiq, keturunan Ali keempat, menunjukkan amarahnya kepada pencaci Abu Bakar. Ia mengatakan, “Ali berlepas diri dari orang yang membenci Abu Bakar dan Umar. Jika sekiranya aku berkuasa, maka aku akan mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan memerangi orang yang membenci keduanya (Abu Bakar dan Umar)” (Al-Masyru’ al-Rawi, I hal. 86).

Dalam suatu doanya, Ja’far al-Shadiq, menegaskan pengaduannya kepada Allah bahwa beliau mencintai Abu Bakar dan Umar. Ia berdoa, “Ya Allah, aku mengakui Abu Bakar dan Umar sebagai pemimpin dan aku mencintai keduanya. Ya Allah, apabila yang ada dalam hatiku bukan demikian, biarlah aku tidak mendapat syafa’at dari nabi Muhammad Saw” (diriwayatkan oleh Imam Daruqutni).

Zuhair bin Mu’awiyah menceritakan kisah keteladanan Ja’far al-Shadiq. Diceritakan bahwa ayah Zuhair yaitu Mu’awiyah pernah berkata kepada Ja’far, “Tetanggaku mengatakan bahwa engkau berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar benarkah itu?” Ja’far lantas menjawab: “Allah berlepas diri dari tetanggamu. Demi Allah, sesungguhnya aku berharap Allah memberiku manfaat berkat hubungan kekerabatanku dengan Abu Bakar” (Syaikh bin Abullah bin Abu Bakar al-‘Aidarus,al-Iqdun Nabawiy,I/230/Novel al-‘Aidarus,Jalan Lurus Sekilas Pandang Tarikat Bani Alawi,45).

BACA JUGA  ILMU DAN ULAMA: Poros Kebangkitan Peradaban Islam

Muhammad al-Baqir mengatakan bahwa barangsiapa yang tidak mau menyebut Abu Bakar dengan gelar al-Shiddiq, dia tidak akan dibenarkan oleh Allah. Hal ini menyiratkan bahwa menyebut Abu Bakar harus dengan penuh penghormatan dan tawadhu’.

Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat sekaligus kerabat dekat Rasulullah yang bersikap tawadhu dengan pembesar-pembesar sahabat. Diriwayatkan oleh al-Bukahri bahwa Ali pernah berkata, “Orang yang paling baik dari umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar” (HR. Bukhari).

Para Ahlul Bait mencintai para Sahabat karena Rasulullah Saw pernah berpesan agar jangan sampai menista kehormatan Sahabat-Sahabatanya itu. Rasulullah Saw bersabda sebagai pengingat kepada umatnya bahwa umat setelah Sahabat tidak ada tandingannya dengan kedudukan iman para sahabat. Beliau bersabda, “Janganlah kailah mencaci maki sahabat-sahabatku. Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, andaikata seseorang dari kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud, tentunya ia tidak mencapai satu mud maupun setengahnya yang dibelanjakan oleh seorang dari mereka (HR. Bukhari Muslim).

Jadi, hubungan antara Sahabat  dan Ahlul Bait layaknya hubungan kekerabatan dekat yang saling mencintai. Mereka merasa menjadi bagian dari keluarga besar Rasulullah Saw. Mereka intim, harmonis dan saling menghormati.

 

 

No Response

Leave a reply "Cinta Ahlul Bait kepada Sahabat Nabi Saw"