Catatan Ahmad Dahlan untuk Pemimpin

Written by | Sejarah Peradaban

download (1)

 

Oleh M. Anwar Djaelani

 

Inpasonline.com-Tak mudah menjadi pemimpin yang baik. Dia harus selalu bisa membawa masyarakat yang dipimpinnya untuk selalu berada di “wilayah kebenaran”. Untuk itu, pertama, pemimpin harus menjadi teladan dalam hal kebaikan. Kedua, pemimpin harus selalu siap berkorban, tak hanya harta tapi jika diperlukan juga jiwanya. Oleh karena itu, para pemimpin tidak boleh terbelenggu dengan kebiasaan-kebiasaan buruk meski hal itu dipraktikkan oleh kebanyakan orang.

Paragraf di atas, semacam kesimpulan jika kita mencermati sejumlah renungan KH Ahmad Dahlan (1868-1923) berikut ini. Renungan itu, meski telah berumur sekitar seratus tahun tetap berharga dan bisa disampaikan kapan saja.

 

Berkorbanlah, Adillah!

Inilah catatan KH Ahmad Dahlan terutama untuk para pemimpin: “Kebanyakan pemimpin-pemimpin rakyat, belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah, pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah” (KRH Hadjid, 2013: 28).

Di catatan KH Ahmad Dahlan di atas, hal yang paling mendasar, bahwa pemimpin harus mampu mengajak dan menjaga siapapun yang dipimpinnya agar senantiasa berada di jalan kebenaran. Kebenaran yang dimaksud terutama seperti yang diatur oleh agama.

Dalam konteks kekinian, jika Pancasila benar-benar menjadi acuan kita, maka catatan KH Ahmad Dahlan itu akan relevan: Pemimpin harus menjaga dirinya sekaligus membersamai orang-orang yang dipimpinnya agar selalu ber-“Ketuhanan Yang Maha Esa.

Selanjutnya, berdasar catatan KH Ahmad Dahlan ini, kita perlu introspeksi dengan ungkapan ini: Jangan menjadi seperti kebanyakan pemimpin yang tak sigap dalam berkorban, baik hartanya dan apalagi jiwanya. Dalam konteks kekinian, jika Pancasila sungguh-sungguh menjadi pedoman kita, maka pesan KH Ahmad Dahlan adalah: Pemimpin harus menjadi pihak pertama dalam mengamalkan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

BACA JUGA  Sejarah Kebudayaan Islam; Perspektif Tauhidi

Dulu, KH Ahmad Dahlan, sudah punya catatan: Banyak pemimpin yang “Mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah”. Maka, dalam kalimat lain, para pemimpin hendaknya memuliakan manusia yang dipimpinnya. Bagaimana caranya?

Pemimpin wajib menyediakan jalan-jalan yang bisa memudahkan semua warga dalam usaha mencukupi segenap kebutuhan hidupnya. Pemimpin harus menjamin rasa aman dari segenap warga dengan, misalnya, menerapkan hukum secara sama terhadap siapapun. Jangan praktikkan sikap tebang pilih, hukum hanya tajam ke “bawah” dan tumpul ke “atas”.

 

Kondisikan Kebiasaan Baik

Catatan KH Ahmad Dahlan: “Manusia itu kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali dua kali, berulang-ulang maka kemudian jadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai, maka kebiasaan yang dicintai itu akan sukar untuk diubah” (KRH Hadjid, 2013: 17).

Renungan KH Ahmad Dahlan di atas berlaku umum, untuk siapa saja. Tapi jika melihat urgensinya, maka sungguh sangat bermanfaat jika para pemimpin secara khusus menjadikannya sebagai pedoman. Bahwa, mereka hanya akan menjadikan hal-hal yang baik (terlebih menurut agama) sebagai sebuah kebiasaan. Terkait hal ini, pemimpin jangan pernah memberikan toleransi berkembangnya kebiasaan buruk semisal praktik suap-menyuap dan korupsi.

Masih sekaitan, pemimpin jangan pernah menoleransi (atau malah memelihara) suatu kebiasaan buruk yang bisa berujung kepada terbaliknya norma. Misal, oleh karena sesuatu yang salah itu sudah berlangsung lama dan mengalami pembiaran maka hal yang demikian lalu dianggap benar. Kelak, ketika akan mengoreksi yang salah itu untuk dikembalikan ke yang benar, akan sulit.

Tentang hal di atas, sila hayati renungan KH Ahmad Dahlan ini: “Sudah menjadi tabiat, bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik itu dari sudut keyakinan atau i’tiqad, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan mengubah, mereka akan sanggup membela dengan mengorbankan jiwa-raga. Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimilikinya adalah benar” (KRH Hadjid, 2013: 17).

BACA JUGA  Membina Kebudayaan Mulia: Bagaimana dan dari Mana?

Tentu saja, untuk mengarahkan kebiasaan masyarakat, para pemimpin punya kemudahan untuk melakukannya yaitu lewat kewenangan yang dimilikinya. Di sinilah terlihat bahwa tanggung-jawab seorang pemimpin sangat besar. Mengingat ini, pemimpin harus memberi teladan. Pemimpin harus menjadi perintis dalam berbagai proyek kebaikan.

 

Teladan Sang Panutan

Banyak yang terpesona dengan akhlak KH Ahmad Dahlan yang ikhlas berjuang dan berkorban. Tentang ini, ada kesaksian menarik. Adian Husaini (2020: 30) mengutip buku “KH Ahmad Dahlan; Reformer Islam Indonesia” karya Solichin Salam terbitan 1963, sebagai berikut:

“Kebesaran Kiai Dahlan tidaklah terletak pada luasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya, melainkan terletak pada kebesaran jiwanya, kebesaran pribadinya. Dengan bermodalkan kebesaran jiwanya dan disertai keikhlasan dalam berjuang dan berkorban inilah yang menyebabkan segala gerak langkahnya, amal usaha dan perjuangannya, senantiasa berhasil.”

Tentang KH Ahmad Dahlan yang ikhlas berjuang dan berkorban, tentu cukup mudah mencari jejaknya. Banyak kisah, bagaimana keikhlasan KH Ahmad Dahlan dalam mendirikan dan membesarkan Muhammadiyah. Banyak cerita, bagaimana pengorbanan-dana, tenaga, waktu-dari seorang KH Ahmad Dahlan dalam gerakan dakwah amar makruf nahi munkar.

KH Ahmad Dahlan langsung memimpin perjuangan, mendakwahkan Islam. Beliau menjadikan dirinya, istrinya, dan keluarganya sebagai teladan termasuk dalam hal keikhlasan dan pengorbanan.

 

Sampai Akhir

Orang-orang terkesan dengan semangat berdakwah KH Ahmad Dahlan yang-

bisa dibilang-tak mengenal lelah. Seperti kita tahu, KH Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923.

Sebelum wafat, KH Ahmad Dahlan sempat sakit. Dalam kondisi seperti itu, beliau seperti kurang memperhatikan nasihat dokter untuk banyak beristirahat. Beliau malah terus berkeliling daerah, bertabligh. Konon, beberapa bulan sebelum meninggal, KH Ahmad Dahlan sempat tujuh belas kali meninggalkan rumahnya di Yogyakarta untuk berbagai kegiatan dakwah.

BACA JUGA  Benarkah Imam al-Ghazali Mematikan Sains dalam Islam?

Terlihat, etos kepejuangan KH Ahmad Dahlan nyata sampai di “hari-hari terakhir”. Tampak, semangat berkorban KH Ahmad Dahlan terbukti hingga di “saat-saat terakhir”. Itu semua, dilakukannya agar masyarakat selalu berada di “wilayah kebenaran”.

Rasakanlah suasana saat KH Ahmad Dahlan menolak nasihat dari orang-orang terdekatnya bahkan juga dari istrinya agar beliau berkonsentrasi untuk memulihkan kesehatannya. Apa respon KH Ahmad Dahlan?

“Saya mesti bekerja keras untuk meletakkan batu pertama dari amal yang amat besar ini. Kalau sekiranya saya lambatkan ataupun saya hentikan lantaran sakitku ini maka tidak ada orang yang akan sanggup meletakkan dasar itu. saya sudah merasa bahwa umur saya tidak akan lama lagi. Jika saya kerjakan selekas mungkin, maka yang tinggal sedikit ini mudah-lah yang di belakang nanti untuk menyempurnakannya,” demikian kata KH Ahmad Dahlan.

 

Pilih Mana

Kita, terlebih pemimpin, harus sama antara kata dan perbuatan. Jika memberi nasihat, maka dirinyalah yang harus melakukannya terlebih dahulu. Untuk hal ini, KH Ahmad Dahlan telah memberi teladan dalam hal konsistensi menegakkan kebenaran di tengah-tengah masyarakat.

Alhasil, agar bahagia, kita-terutama para pemimpin-harus selalu berada di “wilayah kebenaran” yang untuk itu perlu pengorbanan. Isilah hidup ini dengan sepenuh makna. Ikuti semangat KH Ahmad Dahlan ini: “Kita manusia ini, hidup di dunia hanya sekali buat bertaruh. Sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraan?” []

 

 

 

Last modified: 31/01/2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *