Bir dan Ucapan-ucapan ‘Hebat’ Pejabat

Written by | Opini

no-alcohol-travelersway

Oleh M. Anwar Djaelani

no-alcohol-travelersway“Jujur, saya juga minum bir, dan minum bir ini membuat sehat”. Ucapan ‘hebat’ itu adalah bagian dari pidato Bupati Mojokerto -Mustofa Kamal Pasa- di depan pejabat dan masyarakat umum pada 17/01/2013. Pidato itu mengejutkan. Tapi, sendiriankah Mustofa sebagai pejabat yang ucapannya kontroversial?

Tersengat Kalimat

Banyak yang terkejut dengan kalimat Bupati Mojokerto itu. Sebab, antara lain, karena di daerahnya pada pesta menyambut tahun baru 2014 ada 17 orang yang tewas karena minuman keras. Tampak, bahwa saat berpidato sang bupati tak melihat situasi di sekitarnya.

Di acara apakah pernyataan itu disampaikan dan siapa saja yang hadir? Kalimat bupati yang menyengat itu disampaikannya pada peresmian pembangunan pabrik minuman non-alkohol milik PT MBI (Multi Bintang Indonesia) yang berlokasi di Desa Sampang Agung, Kecamatan Kuthorejo, Mojokerto. Dalam situs wikipedia.org ditulis, antara lain: PT Multi Bintang Indonesia Tbk merupakan perusahaan multinasional yang memproduksi minuman, seperti Bir Bintang. Perusahaan ini memiliki pabrik di Ngagel Surabaya dan Sampang Agung Mojokerto.

Hal yang menarik, pertama, pengakuan sang bupati disambut dengan gelak tawa para undangan. Padahal, acara tersebut dihadiri Menteri Perindustrian -M S Hidayat-, jajaran Komisaris dan Direksi PT MBI, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) -Mahendra Siregar-, serta perwakilan Pemkab Mojokerto. Kedua, sang bupati tampak tak menyesal dengan kalimat ‘hebat’-nya itu. “Biar saja pernyataan saya tadi dimuat di media massa,” kata Mustofa (www.detik.com 17/01/2014). Mestinya, kita –terutama para pejabat- tidak asal bicara. Ingatlah nasihat ini: “Berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah”.

Para pejabat semestinya berhati-hati jika berbicara sebab ucapan dan sikap mereka bisa ditiru oleh rakyat yang dipimpinnya. Jika sang pemimpin suka minuman keras, maka sangat mungkin hal itu akan ditiru oleh masyarakat yang dipimpinnya. Bukankah pemimpin itu potensial dalam memengaruhi masyarakatnya?

BACA JUGA  Aina Kashmir?

Sangat berbahaya jika masyarakat suka minuman keras. Berbagai akibat buruk –bahkan sampat terenggutnya nyawa- akan ditemui oleh para peminumnya. Untuk itu, terlalu mudah untuk menyebut berbagai contohnya lewat banyak berita di media massa.

Untuk sekadar mengingat, kita buka sebagian arsip. Pada 12/02/2012, www.okezone.com  menurunkan judul “Whitney Houston Pesta Miras sebelum Kematiannya”. Disebutkan bahwa sang penyanyi “pesta besar” di Hotel Beverly Hilton, Beverly Hills, Los Angeles, AS, sebelum ajal menjemputnya di tempat yang sama pada 11/02/2012.

Di Jakarta, ada cerita tentang Afriyani. Di pagi 22/01/2012 dia mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk dan lelah. Kala itu, dia dalam perjalanan pulang setelah sebelumnya –mulai 21/01/2012 pukul 23.00- dia begadang dan minum-minuman keras bersama lima temannya. Akibatnya, dia menabrak 13 orang dan 9 di antaranya meninggal.

Apa yang terjadi atas diri Whitney Houston di AS dan Afriyani di Jakarta –serta tragedi-tragedi lain yang serupa dengan itu- membuat kita ingat larangan keras ini: “Tiap-tiap yang memabukkan haram” (HR Muslim). Kita sangat dilarang untuk mengonsumsi sesuatu yang memabukkan, sedikit ataupun banyak. “Suatu yang memabukkan –banyak atau sedikit- haram” (HR An-Nasa’i dan Abu Dawud).

Jangan sekali-kali mengonsumsi minuman keras karena berakibat sangat buruk. “Jauhilah khamr, karena sesungguhnya ia adalah kunci semua keburukan” (HR Al-Hakim). Disebut kunci semua keburukan karena yang memabukkan itu bisa menghilangkan akal dan lalu menjadi pemicu tindakan kriminal. “Khamr adalah apa saja yang dapat menghilangkan akal” (HR Bukhari dan Muslim).

Jika memerhatikan ajaran mulia di atas dan berbagai contoh buruk jika kita melanggarnya, maka seharusnya kita –terutama para pejabat atau pemimpin- tidak mengonsumsi minuman keras dan apalagi mengampanyekannya.

BACA JUGA  Renggo, Kekerasan Anak, dan Efek Tontonan

Pilih Mana

Jagalah mulut kita. Sekali-kali kita tak boleh melupakan ajaran ini: “Barang-siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia berkata baik atau diam” (HR Bukhari-Muslim).

Sayang, di sekitar kita banyak yang tak mampu menghidupkan ajaran di atas dalam kesehariannya. Banyak ucapan-ucapan kita yang salah dan bahkan menyakitkan. Lalu, jika yang mengucapkannya seorang pejabat maka akibat negatif yang ditimbulkannya bisa lebih besar.

Sejenak, dengan niat mengambil pelajaran darinya, kita ‘kenang’ sejumlah pernyataan ‘hebat’ selain yang diucapkan Bupati Mustofa di atas. Cukup banyak catatan, bahwa sejumlah pejabat yang ketika berbicara seperti “Tak mengerti situasi”.

Lihatlah, pernah tanpa beban pada 2012 Aceng Fikri –kala itu dia menjabat Bupati Garut- bicara tentang keperawanan, meniduri artis, ‘spek’ istri yang tak sesuai yaitu di saat-saat dia menghadapi masalah pernikahan kilatnya yang menghebohkan.

Perhatikanlah Marzuki Alie (Ketua DPR-RI). Situs www.tempo.co 08/05/2012 mencatat “10 Pernyataan Kontroversial Marzuki Alie”. Ini salah satunya, yaitu ketika pada 27/10/2010 setelah nelayan di Mentawai Sumatera Barat terkena tsunami, dia bilang: “Ada pepatah, kalau takut ombak, jangan tinggal di pantai.”

Cermatilah Muhaimin Iskandar (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi). Pada 02/12/2012, di sebuah kesempatan di Palembang, dia mengatakan bahwa siswa-siswi SMA kini kenalnya hanya Rohis, yang hasilnya radikal dan culun-culun (www.muslimdaily.net 04/12/2012).

Lihatlah Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika). Kala itu pemerintahan baru bekerja sekitar dua bulan, tapi para menteri (plus sejumlah pejabat tinggi lain) mendapat fasilitas mobil dinas baru yang disebut-sebut berharga Rp. 1,3 M. Kritik keras oleh publik, ditanggapi enteng sang menteri yang menyatakan bahwa untuk simbol-simbol Negara, menggunakan uang negara untuk membeli mobil dinas yang bagus semestinya tidak dipersoalkan. Kata Tifatul, “Nggak ada masalah, toh uangnya ada kan?” (www.vivanews.com 04/01/2010).

BACA JUGA  Silatnas MIUMI Garut: Meningkatkan Peran Ideal Ulama

Alhasil, mencermati pernyataan-pernyataan ‘hebat’ di atas, maka duhai para pejabat, jangan sekali-kali Anda melupakan ajaran suci ini: “Barang-siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia berkata baik atau diam” (HR Bukhari-Muslim). []

Last modified: 27/01/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *