Bermewah-mewah Itu Masalah Besar

No comment 653 views

“Wah, Mewah!”

Bacalah sebuah paragraf di Jawa Pos 10/10/2011 ini: “Meriah dan mewah. Mungkin hanya dua kata itu yang paling layak untuk menggambarkan resepsi pernikahan Ahmad Mumtaz Rais dan Futri Zulya Savitri yang berlangsung di hall D Pekan Raya Jakarta, 9/10/2011”.

Siapa kedua mempelai itu? Ahmad Mumtaz Rais adalah putra Amien Rais. Amien Rais tokoh umat. Dia ketua salah sebuah ormas Islam yang besar, periode 1995-1998. Mestinya, jabatan itu disandangnya sampai 2000. Tapi, dia mundur pada 1998 lantaran membidani dan memimpin sebuah partai politik.

Amien Rais tokoh nasional. Sebagian menobatkannya sebagai Bapak Reformasi, tak lama setelah Soeharto jatuh atas ‘dorongan’ gerakan reformasi pada 1998. Dia Ketua MPR 19992004. Sementara, Futri Zulya Savitri adalah putri Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Sang Menteri pernah pula menjabat Sekjen dari partai politik yang didirikan Amien Rais.

Maka, menjadi berita-lah acara pernikahan itu, karena ‘Orang besar’ melakukan ‘peristiwa besar’. Mari, rasakan kemewahan acara mereka, lewat petikan dari reportase Jawa Pos 10/10/2011.

Gedung megah adalah tempat resepsinya. Di ruangan ada 30 pohon artifisial, tertata apik. Satu pohon yang paling besar berada di tengah-tengah. Cabang-cabangnya yang rimbun seolah-olah menembus langit-langit gedung. Ada taman-taman bunga dan lampu-lampu kecil bergantungan. Indah!

Panjang panggung pelaminan lebih dari 100 meter, bernuansa adat Lampung berwarna perak. Megah! Ada taman bunga dan kolam kecil di depan panggung. Dua burung kakak tua berwarna putih dan 16 angsa jambul anteng di tengah kolam.

Nuansa hutan di pesta itu tak pelak dihubung-hubungkan oleh yang hadir dengan posisi orang tua mempelai putri yang Menteri Kehutanan. Jawa Pos-pun tepat dengan menurunkan judul: ”Resepsi Pernikahan Putra Amien Rais dan Putri Zulkifli Hasan: Tamu Disuguhi ala Pesta Hutan”. 

Tak kurang ada 4.000 undangan, termasuk para menteri, anggota DPR, dan pejabat penting yang lain. Sejumlah artis membuat acara makin meriah. Jika mau ‘mengabadikan wajah’, tersedia boot foto. Undangan boleh meminta difoto dengan background yang sudah disediakan. Tersedia juga aksesori, mulai topi hingga syal bulu beraneka motif sebagai pelengkap. Proses cetaknya langsung di tempat, kurang dari dua menit. Semua gratis!

Tentang makanan?  Tersedia puluhan jenis makanan yang mengundang selera. Ada yang khas Indonesia: soto mi, lontong kikil, kare iga sapi, dan rames bali. Ingin beda? Ada mi bebek hongkong, kebab ayam atau kambing, kambing maroko, mongolian fire pot, salmon mayoyaki, sushi sashimi, atau teppanyaki. Sebagai menu penutup, ada coconut jelly, kue leker, serta aneka pasta.

Bagaimana busana pengantin dan kedua orang tuanya? Jawa Pos 10/10/2011 memuat foto mereka saat resepsi pernikahan. Tampak mempelai putri mengenakan kebaya merah dengan dada dan leher terbuka. Di kepalanya ada mahkota kecil, sehingga rambutnya leluasa terlihat. Ibu dia –Nyonya Zulkifli Hasan- tampil dengan kerudung yang tak sempurna menutup rambut. Sementara, Nyonya Amien Rais, sama dengan sang besan, malah bagian rambut yang terlihat jauh lebih banyak. Lalu, bagaimana busana mereka di saat akad nikah, sehari sebelumnya? Sama saja!   

Syariah Mengatur

Atas berita itu, boleh jadi, banyak yang lalu teringat akan sejumlah pesan Islam. Pertama, soal larangan bermewah-mewah di kehidupan ini. Di sini, ada peringatan Allah. “Dan, Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.” (QS Saba’ [34]: 34).

Kita dimohon, agar jangan sampai tergolong sebagai si zalim lantaran memilih suka hidup bermewah-mewah. Sadarilah, bahwa itu dosa! “…. dan, orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa (QS Huud [11]: 116).

Jika kita hidup bermewah-mewah, itu bukan saja merupakan masalah pribadi yaitu mendapat dosa, tapi lingkungan sekitarnya juga akan terdampak. Sebab, pihak yang suka bermewah-mewah itu bisa dikategorikan sebagai pengundang bencana. “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka, sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS Al-Isra’ [17]: 16).

Oleh karena itu, siapapun yang terlanjur pernah hidup bermewah-mewah, hendaknya jangan sampai terlambat meminta tolong (bertobat) kepada Allah! “Hingga apabila Kami timpakan azab, kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik minta tolong (QS Al-Mu’minuun [23]: 64).

Kedua, soal kaidah berbusana yang sesuai ajaran Islam. Syariat Islam lengkap mengatur -bahwa bagi Muslim- menutup aurat itu wajib. Aurat laki-laki mulai pusar sampai lutut. Bagi wanita, sebagaimana Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepada Asma binti Abubakar, aurat wanita adalah sekujur tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Tentang ini, sandaran hukumnya juga pada QS Al-Ahzab  [33]: 59, yang artinya “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Pun, QS An-Nuur [24]: 31 bisa menjadi dasar hukum.

Jadi, mari kita –semua tanpa terkecuali- belajar lagi. Dan, yang terlebih penting, amalkan apapun yang telah disyariatkan-Nya! [] 

 

BACA JUGA  Perihal Doa Penggugah Kesadaran
No Response

Leave a reply "Bermewah-mewah Itu Masalah Besar"