Bencana, Musibah atau  Adzab ?

Written by | Fikih dan Syariah

1111tsunami20170426

 

Oleh: Moh. Ishom Mudin*

 

Inpasonline.com-Akhir-akhir ini, Negara kita sering dilanda bencana Alam. Mulai gempa bumi berturut-turut, kebakaran, tanah longsor, gunung meletus dan lain sebagainya. Muncullah persepsi dari sebagian masyarakat bahwa semua yang terjadi itu adalah adzab dari Allah swt, karena dosa dan kesalahan  yang dilakukan oleh orang-orang sudah melampaui batas. Namun, yang lain menganggap hal itu adalah musibah sekaligus ujian dari Allah, karena walaupun ada yang berbuat dosa, namun banyak orang-orang baik yang masih mengabdi dengan tulus kepadanya. Bagaimana membedakan dua hal tersebut?, lantas Bagaimana kita bersikap? .

 

Kalimat adzab dan musibah berasal dari bahasa arab al-Qur`an, untuk itu perlu merujuk makna dasar keduanya. Ibn Mandzur pakar semantik arab menjelaskan arti dasar ‘adzab’ adalah peringatan dan siksa (al-nakâl wa al-‘uqûbah). Sedang arti dasar ‘musibah’ adalah apa saja yang menimpa manusia secara mutlak, namun secara istilah bermakna peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak disukai manusia. Maka, adzab dan musibah memiliki persamaan dari sisi bentuk berupa hal-hal yang tidak menyenangkan, menyakitkan, merugikan atau menyusahkan secara fisik. Juga, kedauanya terjadi dikarenakan adalah sebab berupa tindakan yang dilakukan manusia.

 

Objek adzab dalam al-Qur`an selalu ditujukan kepada orang yang inkar terhadapa kebenaran Tauhid yang dibawa oleh para Nabi atau munafik. Sebuah ungkapan Nabi Ibrahim kepada sang Ayah yang inkar, ‘Wahai ayah, saya takut adzab menimpa kalian (kafir) dari yang maha Rahman” (Maryam, 45). Sebaliknya, adzab tidak diperuntukkan untuk Muslim masih yang memiliki iman dalam hati, apalagi dibrengi dengan istigfar sebagai yag disebutkan dalam beberapa ayat; misalnya “Dia tidak akan mengadzab mu selagi kamu beriman dan bersyukur”(an-Nisa: 147).

BACA JUGA  Urgensi Sanad dalam Kajian Ilmu

 

Objek musibah bisa menimpa siapapun baik yang muslim, kafir, bahkan makhluk yang tidak mempunyaisi khitab syariiy seperti anak-anak kecil, hewan dan tumbugan. Penyebab pun bisa bermacam-macam.  Pertama, bisa karena dosa-dosa seperti dalam ayat “Musibah yang menimpamu) disebabkan oleh perbuatan tanganmu..” (as-Syura: 30). Imam Jalaluddin menerangkan bahwa tujuan lafadz “kepadamu” adalah orang mukmin, sedangkan kata perbuatan dosa diidentikkan dengan “tangan” karena tangan ini mewakili aktifitas keseluruhan. Yang manarik, kebanyakan Allah mengampuni dosa-dosa tersebut dengan memberikan musibah di dunia. Hal ini dikuatkan dengan hadits shahih; “apapun yang menimpa umat muslim seperti sakit, demam, kesusahan, duri yang menusuk telapak kaki, maka Allah akan menghapuskan dosa-dosanya karena hal itu” (HR. Bukhari Muslim).

 

Kedua, Jika  musihah meminmpa orang beriman yang tidak bersalah dan siapa pun yang tidak mempunyai beban, maka hal itu sebagai sarana mengangkat derajatnya di akhirat. Maka, walaupun salah satu penyebab adzab dan musibah adalah dosa, namun perbedaanya terletak pada tujuanya. Adzab jelas disebabkan karena dosa yang cukup berat seperti inkar terhadap kebenaran yang dibawa Nabi, sehingga sifatnya adalah hukuman dan siksa. Sedangkan musibah yang disebabkan dosa tertentuk bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai sarana menghapus dosa. Namun, jika bukan karena dosa tujuanya untuk meningkatkan kedudukan yang terkena musibah.

 

Satu bencana bisa terjadi sebagai bentuk musibah, cobaan bagi orang beriman, sekaligus adzab bagi orang-orang durhaka. Penyebab hal tersebut adalalah tindakan durhaka yang dilakukan. Hal ini dikuatkan dengan sikap khalifah kedua Umar Bin Khattab terhahad gempa yang terjadi di masanya. Beliau mempertanyakan bentuk kesalahan yang di perbuat dan memberikan ultimatum akan meninggalkan Madinah jika tidak menghentikanya (HR. Ahmad). Dalam sebuah atsar lain, seorang sahabat bertanya tentang gempa yang terjadi. Aisyah menjelaskan penyebab gempa karena adanya perzinahan, minuman keras dengan tujuan agar mereka bertaubat. Sahabat itu kembali mempertegas; “apakah hal itu merupakan adzab ?”, beliau menjelaskan “hal itu adalah ujian bagi orang berim dan adzab bagi orang kafir”.

BACA JUGA  Puasa Lahir dan Batin Mencegah Kemunkaran

 

Secara khusus beberapa ayat dan penjelasan mufassir menyebutkan bahwa bencana juga terkait dengan aktifitas pendududuk di suatu daerah atau Negara. Bencana datang bisa dikarenakan adanya sistem pemerintahan yang dzalim. Bisa jadi pejabat yang menyalahgunakan kekuasaanya dan berbuat durhaka, atau rakyat berbuat kerusakan. Sebuah ayat emnyebutkan “…tetapi mereka  melakukan kedurhakaan dalam negeri itu (mutra fiha). Maka sudah sepantasnya berlaku ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Qs. al-Isrâ’: 16). Ibn Abbas menjelaskna bahwasanya kata “mutra fiha” adalah pembesar-pembesar di sebuh kota yang berbuat kedzaliman.  Begitu juga sebaliknya, jika rakyat suatu daerah melakukan kedurhakaan, maka Allah akan menurunkan bencannya (al-A`raf: 96).

 

Agar Negara terhindar dari bencana bertubi-tubi, al-Qur`an menyebutkan lebih spesifik memperbanyak istigfar, meminta ampun kepada Allah, bahkan hal ini bisa meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat. Inilah yang diperitahkan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya; ‘ Beristigfarlah kepada Allah, sesungguhnya dia maha Pengampun, niscaya dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, meningkatkan penghasilan dan memperbanyak anakmu, terbukanya perkebunan-perkebunan dan pengairan disana..(Nuh: 10-13). Adapun kebajikan, keimanan, yang dilakukan oleh kelompok masyarakat menyebabkan turunya barakah kemakmuran ketentraman pada tempat tersebut (al-A`raf: 96).

 

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara menentukan bencana itu apakah musibah atau Adzab ketika datang kepada kita?. Nabi memberikan petunjuk bahwa ketika datang bencana bukan dengan memberian justifikasi ini adalah musibah dan ini adzab karena itu Rahasia Allah. Manusia wajib Ridla dan husnudzan kepada Allah. Maka, sikap yang tepat adalah adalah cepat-cepat melakukan instropeksi diri dan melakukan amal-amal kebaikan dan  segera kembali kepada Allah.

 

Penulis adalah dosen UNIDA Gontor

BACA JUGA  Ukhuwah dalam Pandangan Ibnu Taimiyah

Last modified: 31/01/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *