Banjir dan Amanat Itu

No comment 1253 views

Oleh M. Anwar Djaelani

banjir_jakarta“Jakarta, Oh Jakarta…. Banjir Semakin Meluas, Ribuan Warga Mengungsi,” demikian berita utama Jawa Pos 14/01/2014. Dua hari kemudian –di edisi 16/01/2014- koran yang sama menurunkan berita utama “Manado Lumpuh: Lima Belas Tewas, 40 Ribu Mengungsi, Darurat Bencana Berlaku”.

Bumi Kita

Dalam beberapa tahun terakhir ini, berita seperti di atas tampak selalu ada di berbagai media bersamaan dengan datangnya musim hujan. Terkait itu, banyak korban yang meninggal dan tak sedikit pula kerugian materiel yang harus ditanggung masyarakat.

Atas musibah itu, kita patut menunduk: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum [30]: 41).

Apa pesan ayat di atas? Bumi atau lingkungan tak boleh kita rusak, agar tercipta kehidupan yang harmonis, kapanpun. Sebaliknya, jika bumi atau lingkungan kita rusak, maka akibat buruknya tak hanya akan dirasakan oleh si perusak saja, melainkan juga oleh yang lain.

Dalam Islam, Allah disebut sebagai rabbul-‘alamin (Tuhan alam semesta). Sebab, Dia-lah yang menciptakan alam dan seisinya. Dia Pencipta lingkungan bagi manusia. Sementara, manusia adalah khalifatu-Llah fil ardh (wakil Allah di muka bumi). Artinya, kita harus peduli kepada seluruh agenda yang bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan. Kita harus terus-menerus terlibat dalam usaha pelestarian lingkungan. Hanya dengan cara demikian sajalah, lingkungan yang baik bisa kita wariskan ke generasi yang akan datang.

Pada sisi lain, kita berstatus sebagai hamba Allah (Tuhan alam semesta dan sekaligus pengikut Rasulullah SAW yang risalahnya membawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil’alamin). Dengan demikian, umat Islam adalah manusia yang akan selalu berusaha untuk melakukan perannya sebagai pelestari lingkungan atau pemakmur bumi.

BACA JUGA  Prita, Penghinaan Nabi, dan Buku

Perhatikanlah firman Allah berikut ini yang meminta kita untuk menjadi pemakmur bumi: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)’.” (QS Huud [11]: 61). Tampak, bahwa manusia mendapat amanat untuk menjaga bumi dari kemungkinan rusaknya.

Jika Allah memerintahkan kita untuk memakmurkan bumi, itu artinya Allah juga meminta kita untuk menyediakan cara sedemikian rupa kemakmuran bumi itu bisa diwujudkan. Simaklah ilustrasi berikut ini!

Awalnya, manusia diminta untuk memakmurkan bumi dengan menjaga kelestarian bumi / lingkungan / alam. Manfaat menjaga bumi, bukan hanya akan dinikmati oleh dirinya sendiri, tapi juga oleh orang lain dan –bahkan- oleh pewaris kita.

Untuk keperluan memakmurkan bumi –tak tanggung-tanggung- Allah mengangkat kita sebagai wakil Allah di muka bumi, untuk menjaga bumi agar kehidupan bisa terus dinikmati oleh generasi selanjutnya. Generasi yang akan datang tidak mungkin bisa menikmati kehidupan dengan nyaman, bila generasi yang sekarang lupa dengan tugas mulia untuk memakmurkan bumi.

Dengan demikian, tampak sekali peran sentral manusia dalam upaya pemakmuran bumi. Bahkan, lebih tegas lagi, Allah berfirman agar kita tak bertindak sebaliknya, yaitu merusak: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al-Qhashash [28]: 77).

Pada ayat di atas, sangat diinginkan bahwa manusia itu harus berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita. Allah telah dengan sempurna menciptakan bumi dan diberikan secara gratis kepada kita. Oleh karena itu, sangat wajar bila kita juga berbuat baik terutama kepada bumi / lingkungan / alam sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita.

BACA JUGA  Pendidikan Multikultural Mendekonstruksi Teologi Islam

Bahwa di bumi terjadi banjir, tsunami, gempa, angin puyuh, dan lain-lain, maka itu semua sangat boleh jadi dihadirkan Allah untuk mengingatkan agar jangan sampai bumi dan seisinya dirusak (lihat QS Ar-Ruum [30]: 41 yang telah dikutip di atas). Intinya, kalau tidak dirusak, bumi tidak akan menyengsarakan manusia, -misal- dengan bahaya banjir, longsor, dan lain-lain.

Berhati-hatilah! Di QS Ar-Ruum [30]: 41 tersebut, Allah mengingatkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan manusia akan mengundang dampak negatif yang akan dirasakan, bukan hanya nanti di alam kubur atau –kelak- di neraka, melainkan juga dampak negatif itu sudah bisa kita rasakan sejak sekarang di saat masih di dunia.

Hal lain yang betul-betul harus dimengerti adalah bahwa sekalipun tidak semua orang berbuat kejahatan terhadap bumi / lingkungan / alam (artinya masih ada di antara kita yang berbuat kebaikan), namun dampak negatif yang terjadi tidak hanya akan dirasakan oleh para pelaku kejahatan itu saja tapi juga termasuk orang-orang yang baik.

Yang pasti, lewat berbagai musibah, Allah bermaksud mengingatkan bahwa manusia telah mengabaikan amanat-Nya untuk memakmurkan bumi. Artinya, bermacam-macam musibah itu adalah cara Allah agar kita kembali ke jalan yang benar. Kita harus kembali menyadari untuk menjaga dengan sebaik-baiknya bumi ini. Kita harus sadar untuk tidak merusak lingkungan.

Agar Tak Terbukti

Terakhir, mari renungkan firman Allah ini: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS Al-Baqarah [2]: 30). Mahasuci Allah, semoga kita tak termasuk orang yang dimaksud oleh malaikat di ayat di atas. []

BACA JUGA  Imam Bukhari; Pemimpin dalam Ilmu Hadits

No Response

Leave a reply "Banjir dan Amanat Itu"