Atha’ Tepis Upah Dakwah dari Istana

Written by | Sejarah Peradaban

images12345

Oleh M. Anwar Djaelani

Inpasonline.com-Atha’ bin Abi Rabah adalah ulama generasi Tabi’in terkemuka. Beliau termasuk pemuka ahli fiqh yang berhak berfatwa di Masjid Al-Haram. Di antara kisahnya yang menarik adalah saat dia berdakwah secara langsung kepada Khalifah Hisyam bin Abdul Malik di Istananya.

Dakwah yang Indah
Atha’ bin Abi Rabah lahir di Yaman di masa kekhalifahan Usman bin Affan Ra. Dalam perjalanan hidupnya, Atha’ bin Abi Rabah –yang bekas budak- menjadikan Baitul Haram di Mekkah sebagai tempat tinggalnya. Dijadikannya tempat itu sebagai madrasah untuk memerdalam ilmu dan sekaligus –tentu saja- tempat untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Sekitar dua puluh tahun Atha’ tinggal di masjid tersebut.

Beliau mengambil ilmu dari Abdullah bin Abbas Ra, Abdullah bin Umar Ra, Abdullah bin Zubeir Ra, Abu Hurairah Ra, dan Sahabat-Sahabat yang lain. Lalu, seperti apa kedalaman ilmunya?

Ada riwayat, bahwa Abdullah bin Umar Ra berkunjung ke Mekkah untuk berumroh. Orang-orang mengerumuni beliau untuk menanyakan berbagai persoalan agama dan meminta fatwa. Apa jawab beliau?

“Sungguh saya heran kepada kalian, wahai penduduk Mekkah. Mengapa kalian mengerumuni saya untuk bertanya tentang masalah agama, padahal di tengah-tengah kalian ada Atha’ bin Abi Rabah,” demikian jawab Abdullah bin Umar Ra.

Atha’ hidup sangat sederhana. Gemerlap dunia tak mampu menggodanya. Sepanjang hidupnya, beliau hanya mengenakan baju yang harganya sangat murah. Padahal, andai mau, Atha’ bisa hidup makmur. Lihatlah, para Khalifah telah meminta beliau untuk menjadi pendampingnya. Namun, beliau tolak tawaran itu karena takut agamanya ternoda oleh daya tarik jabatan atau dunia.

Ada yang istimewa, sebab Atha’ kadang-kadang mengunjungi Khalifah. Hal itu dilakukannya jika beliau merasa bahwa yang demikian itu akan mendatangkan manfaat bagi kaum Muslimin dan kebaikan bagi Islam.

BACA JUGA  Injīl menurut Kristen dan Islam

Ada kesaksian, bahwa di sebuah hari dia tampak di jalan raya. Kala itu baju Atha’ lusuh, jubahnya usang, dan penutup kepalanya kusut. Lalu, apa tunggangan dia? Seekor himar hitam dan dengan pelana yang terbuat dari kayu murahan.

Dengan performa seperti itu –yang membuat seorang anak tertawa geli- Atha’ hendak bertamu kepada Khalifah Hisyam bin Abdul Malik di Damaskus. Atha’ punya misi khusus, yaitu untuk menasihati.

Rupanya, di hari yang sama, seseorang –yaitu ayah dari Usman bin Atha’ Al-Khurasani- juga akan bertamu kepada Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Menjelang sampai ke tujuan, seseorang itu bertemu dengan Atha’. Ternyata, mereka bersahabat. Mereka lalu bersama-sama ke Istana.

Saat Khalifah Hisyam bin Abdul Malik tahu bahwa Atha’ bin Abi Rabah (dan ayah dari Usman bin Atha’ Al-Khurasani) ada di depan pintu Istana, beliau bersegera menyambut. “Marhaban, marhaban … silakan, silakan,” seru Hisyam.

Atha’ diterima di sebuah majelis yang dihadiri para bangsawan. Saat Atha’ masuk, hadirin yang sebelumnya bercakap-cakap lalu memilih untuk diam. Setelah itu, terjadiah dialog antara Atha’ bin Abi Rabah dengan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.

“Apa keperluan engkau wahai Abu Muhammad (julukan Atha’ bin Abi Rabah),” tanya Hisyam.

“Wahai Amirul Mukminin! Penduduk Haramain, keluarga Allah dan tetangga Rasulullah Saw, hendaknya mendapat pembagian rezeki dan pemberian,” kata Atha’.

“Baik. Wahai penulis, tulislah bahwa bagi penduduk Mekkah dan Madinah untuk menerima bantuan selama satu tahun”. Lalu, “Masih adakah keperluan yang lain wahai Abu Muhammad?”

“Benar, wahai Amirul Mukminin! Penduduk Hijaz dan penduduk Najd, asal mula Arab dan tempat para pemimpin Islam, janganlah diambil kelebihan sedekah mereka,” pinta Atha’.

BACA JUGA  Politik Islam dan Ketakutan Kaum Imperialis

“Baik. Wahai penulis, tulis agar kita menolak penyerahan kelebihan sedekah”. Kemudian, “Masih adakah keperluan yang lain wahai Abu Muhammad?”

“Benar, wahai Amiril Mukminin. Ahluts Tsugur (yang ribath fii sabilillah di perbatasan), mereka berdiri menjaga dari musuh. Mereka membunuh siapapun yang menimpakan keburukan kepada kaum Muslimin. Hendaknya, dikirim rezeki kepada mereka karena jika mereka terbunuh niscaya akan lenyaplah perbatasan,” usul Atha’.

“Baiklah. Wahai penulis, tulislah agar kita mengirim makanan kepada mereka”. Lantas, “Masih adakah keperluan lainnya wahai Abu Muhammad?”

“Benar wahai Amirul Mukminin. Ahli Dzimmah, janganlah dibebani dengan apa-apa yang tidak mereka mampui, karena ketundukan mereka adalah kekuatan bagi kalian untuk mengalahkan musuh kalian,” saran Atha’.

“Wahai penulis, tulislah bagi Ahli Dzimmah agar mereka tidak dibebani dengan apa-apa yang tidak mereka mampui.” Kemudian, “Masih adakah keperluan yang lain wahai Abu Muhammad?”

“Benar. Bertaqwalah kepada Allah atas dirimu wahai Amirul Mukminin. Ketahuilah bahwa engkau diciptakan seorang diri, engkaupun akan mati seorang diri, dikumpulkan di Mahsyar seorang diri, dihisab seorang diri, dan –demi Allah- engkau tidak melihat siapapun,” demikian nasihat Atha’ bin Abi Rabah.

Atas nasihat itu Khalifah Hisyam menundukkan kepalanya sambil menangis. Lalu, berdirilah Atha’ dan ayah dari Usman bin Atha’ Al-Khurasani, hendak pulang. Namun, ketika kedua orang itu melewati pintu, tiba-tiba ada seseorang yang membuntuti Atha’ sambil membawa semacam kantong yang tak diketahui berisi apa. “Sesungguhnya Amirul Mukminin menyuruh saya untuk menyerahkan ini kepada engkau,” kata orang itu kepada Atha’.

“Tidak,” jawab Atha’. Jawaban itu lalu diiringinya dengan membaca QS Asy-Syu’araa’ [26]: 109. “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.

BACA JUGA  LGBT: Fitrah atau Penyimpangan?

Atha’ tegas menolak upah dari dakwah (berupa ajakan ke kebaikan) yang telah dilakukannya. Bahkan, sejak Atha’ masuk ke Istana hingga kemudian keluar untuk pulang, beliau tak minum seteguk airpun.

Ilmu, Ilmu!
Atha’ bin Abi Rabah berusia panjang -100 tahun-, dan wafat pada tahun 114 H. Atha’ telah menjadi bukti bahwa “Dengan ilmu, rakyat kecil bisa menjadi terhormat. Dengan ilmu, para budak bisa melampaui derajat para raja”. Jadi, berilmulah yang tinggi seperti Atha’ bin Abi Rabah dan gunakan untuk beramar makruf nahi munkar! []

Last modified: 27/04/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *