Asap, Lingkungan, dan Kita

Written by | Opini

Petugas dari Manggala Agni memadamkan sisa api yang membakar perkebunan kelapa sawit di Sungai Aur, Muaro Jambi, Sabtu (12/9). Berdasarkan data BMKG kebakaran lahan dan hutan di Sumatera semakin meluas dengan 833 titik panas dengan paparan asap menyebar hingga Malaysia dan Singapura. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ama/15

Oleh: Anwar Djaelani

Petugas dari Manggala Agni memadamkan sisa api yang membakar perkebunan kelapa sawit di Sungai Aur, Muaro Jambi, Sabtu (12/9). Berdasarkan data BMKG kebakaran lahan dan hutan di Sumatera semakin meluas dengan 833 titik panas dengan paparan asap menyebar hingga Malaysia dan Singapura. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ama/15

Petugas dari Manggala Agni memadamkan sisa api yang membakar perkebunan kelapa sawit di Sungai Aur, Muaro Jambi, Sabtu (12/9). Berdasarkan data BMKG kebakaran lahan dan hutan di Sumatera semakin meluas dengan 833 titik panas dengan paparan asap menyebar hingga Malaysia dan Singapura. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ama/15

Inpasonline.com-Secara umum, makin banyak orang yang jika berada di luar rumah menggunakan masker ‘pelindung hidung’ karena kualitas udara makin tak bagus. Secara khusus, seperti di Sumatera misalnya, pemakai masker bertambah-tambah karena adanya bencana asap yang diakibatkan kebakaran hutan di sejumlah titik.

Wajah Buruk

Akibat kebakaran hutan di banyak tempat, asap mengepung Indonesia. Bacalah berita di www.antaranews.com ‘edisi’ 25/10/2015: “Jakarta Mulai Terpapar Kabut Asap”. Bahwa, berdasar pantauan satelit Himawari dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 25/10/2015 pukul 08.30 WIB, lebih dari tiga per empat wilayah Indonesia tertutup asap tipis hingga tebal, termasuk Jakarta.

Lebih dari tiga per empat wilayah Indonesia -kata berita itu- tertutup asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan. Adapun yang tidak kena imbas asap adalah Jawa Tengah, DIY, sebagian Jawa Timur, NTT, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan bagian utara Papua.

Di hari Ahad itu, pukul 09.00 WIB, dilaporkan jarak pandang di Padang hanya 200 meter, Pekanbaru 1.000 meter, Jambi 900 meter, Palembang 200 meter, Pontianak 800 meter, Ketapang 200 meter, Palangkaraya 100 meter, dan Banjarmasin 400 meter.

Masih di berita di atas, disebutkan bahwa kualitas udara di Pekanbaru menunjuk angka 570 atau pada level berbahaya, Jambi 518 berbahaya, Palembang 325 sangat tidak sehat, Pontianak 169 tidak sehat, Banjarbaru 73 sedang, Samarinda 147 sedang, dan Palangkaraya 1.511 berbahaya.

BACA JUGA  Belajar dari Kearifan Ilmuwan Muslim Masa Lalu: Ilmu untuk Akhirat

Memang, akibat berbagai kebakaran hutan di sejumlah titik di Indonesia, kerugian yang ditimbulkannya sangat besar dan di banyak aspek. Di aspek ekonomi, misalnya, dampak kabut asap diperkirakan mencapai Rp 200 trilliun. Angka ini melebihi kerugian pada bencana 1997 (www.bbc.com 27/10/2015, diakses pk 15.00).

Kerugian lain, misalnya, untuk waktu yang relatif lama murid-murid sempat diliburkan.           Malah, yang paling memilukan adalah kerugian dalam hal jatuhnya banyak korban yang meninggal. Baca, misalnya, “Paru-paru Penuh Asap, Bocah di Riau Meninggal” (www.liputan6.com 21/10/2015).

Kebakaran itu ulah siapa? Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengungkapkan, para pelaku pembakaran hutan dan lahan adalah perorangan dan perusahaan atau korporasi. Bahkan ada yang perusahaan asing (www.viva.co.id 09/10/2015).

Agar Sadar

Atas bencana tersebut, kita ingat Kalimat Suci ini yang meminta kita untuk menjadi pemakmur bumi: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. Karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)’.” (QS Huud [11]: 61). Maksud ‘pemakmur bumi’ di ayat tersebut adalah bahwa manusia dijadikan sebagai penghuni bumi untuk menguasai dan memakmurkannya.

Jika Allah memerintahkan kita untuk memakmurkan bumi, itu artinya Allah juga meminta kita untuk menyediakan cara sedemikian rupa kemakmuran bumi itu bisa diwujudkan. Simaklah ilustrasi berikut ini!

Awalnya, manusia diminta untuk memakmurkan bumi, dengan menjaga kelestarian lingkungannya. Manfaat menjaga lingkungan, bukan hanya akan dinikmati oleh dirinya sendiri, tapi juga oleh orang lain dan –bahkan- oleh pewaris kita.

BACA JUGA  Liberalis: Ahl Bid’ah, Bukan Mujtahid!

Untuk keperluan memakmurkan bumi –tak tanggung-tanggung- Allah mengangkat kita sebagai wakil Allah di muka bumi, untuk menjaga alam agar kehidupan bisa terus dinikmati oleh generasi selanjutnya. Generasi yang akan datang tidak mungkin bisa menikmati kehidupan dengan nyaman, bila generasi yang sekarang lupa dengan tugas mulia untuk memakmurkan bumi.

Dengan demikian, tampak sekali, peran sentral manusia dalam upaya pemakmuran bumi. Bahkan, lebih tegas lagi, Allah meminta kita agar tak bertindak sebaliknya yaitu merusak: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al-Qhashash [28]: 77).

Pada ayat di atas, sangat diinginkan bahwa manusia harus berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Allah telah dengan sempurna menciptakan alam dan diberikan secara gratis kepada kita. Karena itu, sangat wajar bila kita juga berbuat baik terutama kepada lingkungan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita.

Intinya, kalau tidak dirusak, bumi tidak akan menyengsarakan manusia, -misal- dengan bahaya asap, banjir, longsor, dan lain-lain. Berhati-hatilah! Jangan seperti yang dimaksud Kalimat Suci ini: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Ruum [30]: 41).

Lewat ayat di atas Allah mengingatkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan manusia akan mengundang dampak negatif yang akan mereka rasakan, bukan hanya nanti di alam kubur atau kelak di akhirat, melainkan juga sudah bisa mereka rasakan sejak sekarang (saat masih hidup).

BACA JUGA  Kiai Hamid Pasuruan Tak Hendak Terkenal

Hal yang betul-betul harus dimengerti adalah bahwa sekalipun tidak semua orang berbuat kejahatan terhadap lingkungan (artinya masih ada di antara kita yang berbuat kebaikan), namun dampak negatif yang terjadi tidak hanya akan dirasakan oleh para pelaku kejahatan itu saja, melainkan juga termasuk orang baik-baik.

Hal yang pasti, lewat berbagai bencana, Allah bermaksud mengingatkan bahwa manusia telah mengabaikan amanat Allah untuk memakmurkan bumi. Artinya, bermacam bencana itu adalah cara Allah agar kita kembali ke jalan yang benar. Kita harus kembali menyadari untuk menjaga dengan sebaik-baiknya alam ini. Jangan rusak lingkungan ini! []

Last modified: 30/10/2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *