AQJ dan Urgensi Menghidupkan Nama

No comment 1400 views

A_sukses berilmu

Oleh M. Anwar Djaelani

Ahmad Dhani benar saat menamai anak ketiganya dengan Abdul Qodir Jaelani. Sangat mungkin, dia berharap kelak sang anak akhlaq dan ilmunya sekelas dengan ulama besar itu. Sayang, tiga belas tahun kemudian ternyata si anak ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan yang menewaskan enam orang dan melukai sembilan lainnya.

Kontradiksi Itu

Memberi nama yang baik adalah kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya. Orangtua harus memilihkan nama yang baik sebab hal itu berpengaruh terhadap kepribadian si anak.

Di dalam nama terkandung doa. Nabi Muhammad SAW-pun memerintahkan untuk memberi nama yang baik kepada anak-anak kita sembari memberi contoh nama yang baik yaitu Abdullah dan Abdul Rahman.

Setidaknya dalam satu hal, Ahmad Dhani –seorang musisi- adalah orangtua yang baik. Dia menamai ketiga anaknya masing-masing dengan nama ulama-sufi yang masyhur. Lihatlah, situs Wikipedia: “Dhani menamai anak-anaknya sesuai tokoh sufi yang dikaguminya,” yakni Ahmad Al-Gazali, El-Jalaluddin Rumi, dan Abdul Qodir Jaelani.

Siapa Al-Gazali yang hidup di antara tahun 1058-1111 itu? Dia ulama besar yang telah menulis puluhan buku. Salah satu karyanya –Ihya’ Ulumuddin- besar pengaruhnya dalam memerbaiki aqidah dan keilmuan umat Islam di Palestina. Antara lain karena kontribusi dari kitab karyanya itulah umat Islam memenangkan Perang Salib setelah sekitar 90 tahun sebelumnya kalah.

Siapa Jalaluddin Rumi yang hidup di antara tahun 1207-1273 itu? Dia memiliki kedalaman ilmu dan berkemampuan mengungkapkan perasaannya dalam bentuk puisi. Puisinya tidak saja indah tapi juga memiliki makna mistis yang sangat dalam sebagai ekspresi cintanya kepada Allah. Dia salah satu penyair-sufi terkemuka.

Siapa Abdul Qodir Jaelani yang hidup di antara tahun 1166-1077 itu? Ulama besar ini seorang teolog serta ahli di bidang ushul dan fikih dalam mazhab Hanbali. Ensiklopedi Islam (Hafizh Dasuki dkk, 1994) menyebut bahwa Abdul Qodir Jaelani termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Fatimah. Dia memiliki banyak karya tulis antara lain Tafsir AlJilani dan AlGhunyah LiThalibi Thariqil Haq.

Ahmad Dhani tepat ketika memberi ketiga anaknya dengan nama yang kesemuanya dinisbahkan kepada tokoh Islam terkemuka. Hanya saja, apakah segera setelah pemberian nama itu lalu diikutinya dengan langkah berikutnya? Langkah tersebut adalah berusaha ‘menghidupkan’ nama itu di diri si anak. Dia harus mendidik si anak sedemikian rupa doa (lewat pemberian nama) itu bisa mewujud.

Memberi nama kepada anak memiliki sebuah aspek penting, yaitu menjadi semacam janji kepada Allah dan deklarasi kepada khalayak ramai. Janji dan deklarasi dari orangtua, bahwa sang anak akan dibimbingnya menjadi “orang yang sesuai dengan namanya”.  

Di titik ini, tanggung jawab orangtua diuji. Apakah janjinya kepada Allah akan dia tepati? Apakah deklarasinya kepada publik akan dia penuhi? Untuk ini, pilihannya satu: Didiklah anak sesuai dengan kaidah Islam! Al-Gazali, Rumi, dan Abdul Qodir Jaelani menjadi tokoh besar dan harum namanya sampai kini karena berilmu tinggi dan berakhlaq mulia. Itu semua tak diperoleh secara gratis, tapi orangtualah yang berkewajiban mewujudkannya.

Hidup di zaman seperti apakah Abdul Qodir Jaelani, sang ulama besar itu? Sejarawan Abu Hasan An-Nadwi berkata, bahwa Abdul Qodir Jaelani telah menyaksikan apa yang telah menimpa umat Islam yaitu hidup terpecah-belah, saling bermusuhan, cinta dunia, berebut jabatan, dan berebut kehormatan di sisi penguasa dengan mengultuskannya.

Rasanya, situasi di saat Abdul Qodir Jaelani hidup nyaris tak berbeda dengan sekarang di saat AQJ hidup. Siapa AQJ? AQJ adalah inisial dari Abdul Qodir Jaelani -putra Ahmad Dhani- setelah yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka kasus kecelakaan yang menimbulkan sejumlah korban jiwa dan luka-luka. Ceritanya, AQJ –yang berumur 13 tahun- mengantar pulang sang pacar ke Bogor. Di perjalanan balik menuju Jakarta, mobil AQJ menabrak mobil lain pada pukul 00.45 di tanggal 08/09/2013.

Ahmad Dhani perlu introspeksi. Misal, jika mau, dia bisa mendidik AQJ agar bisa seperti Abdul Qodir Jaelani sang ulama besar. Bukankah situasi zamannya sama?

Abdul Qodir Jaelani tumbuh di bawah tempaan sang ibu (yaitu Fatimah binti Abdullah As-Sauma’i) dan sang kakek (yaitu Syekh Abdullah As-Sauma’i) yang kedua-duanya shalih. Lalu, AQJ yang ‘dipisahkan’ dari ibunya karena ayah-ibunya bercerai, seperti itukah?  

Abdul Qodir Jaelani sejak usia dini terus mematangkan kekuatan bathin yang dimilikinya. Dia mulai belajar mengaji sejak berusia sepuluh tahun. Dia tak suka bermain-main bersama anak-anak lain. Lantas, AQJ semisal itukah?

Abdul Qodir Jaelani suka beribadah siang dan malam. Dia suka memberi nasihat agar orang-orang selalu taat, suka dzikir, dan menyucikan diri dari segala dosa dengan bertobat. AQJ, yang di dini hari sepulang mengantar pacarnya menjadi pemicu kecelakaan maut, seperti itukah?

Abdul Qodir Jaelani meminta murid-muridnya bekerja keras dalam kehidupan dan itu paralel dengan kehidupan sederhana yang dijalaninya. Kemudian, seperti itukah AQJ jika sang ayah membelikan anak-anaknya mobil mewah sekelas BMW, Jaguar, dan Mitsubishi Lancer?

Bangun, Bangun!

Bagi Ahmad Dhani, mungkin memberi mobil mewah kepada anaknya adalah  kebaikan. Untuk itu renungkanlah ini: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Sungguh, sebaik-baik pemberian orangtua kepada anak-anaknya adalah pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik akan membuat anak beradab dan keberadaban yang tertinggi adalah mengenal Allah sekaligus mengibadahi-Nya.

Terakhir, sebagai renungan bersama, sudahkah kita memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak kita? Sudah cukupkah usaha kita dalam menjadikan anak-anak kita serupa dengan nama yang disandangkan kepadanya? Maka, jangan biarkan performa AQJ tak sama dengan Abdul Qodir Jaelani yang masyhur sebagai ulama besar itu. []

 

BACA JUGA  Selamat Berguru ke ‘Sekolah Haji’
No Response

Leave a reply "AQJ dan Urgensi Menghidupkan Nama"