Anak Presiden dan Lilin Khalifah

No comment 2490 views

Oleh M. Anwar Djaelani

lilin khilafahInpasonline.com-Jokowi menjabat presiden belum lama. Tapi, kritik sudah sering menerpanya lantaran berbagai kontroversi yang dia buat. Kontroversi paling baru adalah keikutsertaan sang putri yang menemaninya ke Beijing dalam lawatan kenegaraan. Terkait soal terakhir ini, ada baiknya kita membaca ulang “Kisah Lilin Umar bin Abdul Aziz”. Mengapa?

Biaya Siapa

Di Beijing, Jokowi dijadwalkan hadir dalam pertemuan ke-22 para pemimpin ekonomi Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), 10-11 November 2014. Maka, “Ditemani Putri dan Istri, Jokowi Mendarat di Beijing” (www.news.liputan6.com 08/11/2014).

Atas berita itu, kembali Jokowi disorot. Kahiyang Ayu –anak Jokowi-  jadi rerasan publik lantaran ikut serta dalam rangkaian perjalanan Sang Presiden ke Tiongkok, Myanmar, dan Australia.

Tentang urgensi keikutsertaan putri presiden itu, Wapres Jusuf Kalla (JK) berkomentar ringan, “Ya, untuk melayani bapaknya-lah” (www.kompas.com 08/09/2014). Tampaknya, komentar JK terkesan asal jawab. Bukankah untuk melayani keperluan presiden sudah diatur sedemikian rapi oleh bagian protokoler kepresidenan? Kecuali itu, ditanggung siapakah biaya keikutsertaan anak dalam perjalanan dinas si presiden?

 “Pak Jokowi, Lain Kali kalau ke Luar Negeri Bawa Anak, Jangan Gunakan APBN” (www.republika.co.id 09/11/2014). Judul berita itu merupakan kritik keras ke Jokowi yang mengikutsertakan anaknya –di samping juga istrinya- dalam lawatan kenegaraan. “Pasti ada saja yang kritik. Jika bawa (anak) jelaskan dibayar sendiri,” tulis mantan direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Rustam Ibrahim, dalam akun twitternya.

Kritik itu sangat beralasan. Lihatlah, Yusril Ihza Mahendra -mantan Menteri-Sekretaris Negara dan sekaligus pakar Hukum Tata Negara- menyatakan bahwa seorang istri yang diajak kunjungan kerja presiden akomodasinya dianggarkan di APBN, tapi biaya akomodasi anak presiden tidak ditanggung negara (www.tempo.co11/11/2014).

BACA JUGA  Islamisasi telah Berhasil Satukan Rumpun Alam Melayu

Lalu, apakah ini yang kali pertama si putri ikut sang ayah? Tidak! “Terbang Pakai ‘Indonesia Air Force One’, Jokowi Ditemani Kahiyang” (www.kompas.com 29/10/2014). Dikabarkan bahwa dalam perjalanan dinasnya ke Sinabung – Sumatera Utara, Jokowi tak hanya didampingi si istri tetapi juga sang putri.

Sungguh, publik akan hormat kepada seorang pemimpin jika mendapati kenyataan bahwa sang pemimpin menempatkan sesuatu pada tempatnya. Masalahnya, apa ‘tempat’ Kahiyang dalam perjalanan dinas presiden?

Jangan sekali-kali menghapus kepercayaan publik lewat tindakan(-tindakan) yang tampaknya sepele tapi sesungguhnya sangat serius. Cermatilah, di satu sisi rakyat ‘dipaksa’ prihatin lantaran harga BBM sangat mungkin segera dinaikkan oleh pemerintah. Sementara, di sisi lain, kas negara tak dihemat –sekecil apapun- oleh pemerintah.

Singkat kata, ‘Kisah Kahiyang dan Presiden’ terasa melengkapi banyak kontroversi yang telah melilit Jokowi sebelumnya. Sebut saja kontroversi itu, pertama, soal pengumuman anggota kabinet yang tertunda-tunda. Juga, performa sejumlah menterinya yang dinilai ‘mengejutkan’ oleh sejumlah kalangan. Kedua, soal tiga kartu bantuan sosial yaitu Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera yang oleh banyak kalangan –terutama sejumlah pengamat hukum- dinilai tak memiliki landasan hukum yang jelas. Ketiga, tentang rencana menaikkan harga BBM yang dianggap akan menambah beban rakyat.

Cermin Berharga                 

          Belajar kepada tokoh-tokoh besar yang telah berpulang, kapanpun sangat diperlukan. Umar bin Abdul Aziz, dalam hal kehati-hatian mengemban amanah kekuasaan perlu kita teladani.

Jika di era sebelumnya banyak pejabat lebih mendahulukan kepentingan pribadinya di saat menjalankan tugas, maka Umar bin Abdul Aziz memperagakan hal yang sebaliknya. Implikasinya, di zamannya tidak ada kepentingan rakyat yang tidak diurus dengan baik. Rakyat sejahtera secara merata.

BACA JUGA  HAM dan Aliran Sesat dalam Tertib Hukum di Indonesia

Umar bin Abdul Aziz sebelumnya dikenal kaya-raya. Dia memiliki sejumlah rumah yang sangat bagus, kuda-kuda pilihan, serta dengan penghasilan tahunan 40.000 dinar. Tapi, ketika prosesi pelantikan khalifah, dia ubah semua model upacara yang menyedot uang rakyat. Dia juga menolak fasilitas mewah yang selama ini biasa diperoleh pejabat. Bahkan, begitu dilantik dia langsug menyerahkan seluruh hartanya ke Kas Negara.

Suatu malam, datang utusan dari daerah. Utusan itu masuk dan Umar bin Abdul Aziz  menyalakan lilin besar. Umar bin Abdul Aziz lalu bertanya kepada tamunya terkait persoalan umat di daerahnya. Utusan itupun menyampaikan segala yang diketahuinya.

Utusan itu lantas balik bertanya, “Yaa Khalifah, bagaimana keadaanmu, keluargamu, dan orang-orang yang menjadi tanggung-jawabmu?”

Mendapat pertanyaan itu, Umar bin Abdul Aziz serta-merta meniup lilin besar dan berkata kepada pembantunya, “Tolong nyalakan lampu kecil”. Lalu dinyalakanlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya temaram. Setelah itu, Umar bin Abdul Aziz menjelaskan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istrinya, dan keluarganya.

Ternyata, si tamu tertarik dengan ‘aksi’ Umar bin Abdul Aziz yang mematikan lilin besar. Dia bertanya, “Yaa Khalifah, saya melihat Anda melakukan sesuatu yang menarik.”

Umar bin Abdul Aziz paham dengan arah pernyataan si tamu. Dia lalu berkata, “Wahai hamba Allah, lilin besar yang saya matikan itu dibiayai Kas Negara. Jadi itu harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika saya bertanya kepadamu tentang urusan warga di wilayahmu, maka lilin besar itu patut dinyalakan karena untuk kemaslahatan umat. Tapi, begitu kamu membelokkan pembicaraan ke seputar pribadi saya, maka saya-pun mematikan lilin besar yang dibeli dengan uang Kas Negara dan menggantinya dengan lampu kecil milik saya sendiri”.

BACA JUGA  Urgensi Dakwah dan Peran Masjid

          Alhasil, pesan dari kisah “Umar dan Lilin” di atas sangat jelas. Maka, sudahkah kita –terutama para pemimpin- berhati-hati dalam menggunakan harta rakyat? Sudahkah prinsip amanah –yang sering para pemimpin pidatokan- telah mewujud dalam keseharian? []

 Ed: Ahmad K

No Response

Leave a reply "Anak Presiden dan Lilin Khalifah"