Al-Bukhari, Paling Unggul di Tengah Kritik

No comment 27401 views

Jenius

Imam al-Bukhari dilahirkan pada 13 Syawal 194 Hijrah di Bukhara, di bahagian timur negeri Uzbekistan. Nama lengkapnya Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah.

Perhatiannya kepada ilmu hadis yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti al-Mubarak dan al-Waki.

Bukhari diakui terlahir sebagai sosok yang memiliki daya hapal tinggi. Imam al-Dzahabi dalam Siyar a’lam Nubala’ mencatat bahwa Imam al-Bukhari  menghafal seratus ribu hadis shahih, hafal dua ratus ribu hadis yang tidak shahih. Setiap hadis yang beliau hafal, disertai hafalan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya. Beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Imam Bukhari meninggal dunia pada tahun (256) Hijrah, pada malam Sabtu, malam Hari Raya Idul Fitri. Ketika itu beliau berusia 62 tahun.

Kokoh Dikritik

Di tengah kepakarannya dalam bidang hadis, al-Bukhari tak luput dari para pengkritik. Robert Morey, sarjana teologia, yang pernah menulis buku menghujat Islam Islamic Invasion, termasuk di antara pengkritiknya. Ia menyerang hadis secara keseluruhan. Hadis dianggap sebagai buku karangan biasa Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mendistorsi makna hadis-hadis yang dibenturkan sehingga tampak hasil inspirasi subjektif  Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam yang diwarnai sifat-sifat tidak baik, seperti perbudakan, jihad, dan kehidupan pribadi Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam terutama dengan istri-istri beliau.

Ignaz Golziher, orientalis asal Hungaria, salah satu sarjana Barat yang menggugat keabsahan hadis-hadis Imam Bukhari. Menurutnya, metode penelitian hadis yang dilakukan Imam Bukhari dan ulama’ salaf lemah. Alasannya, Imam Bukhari lebih banyak menggunakan metode Kritik Sanad, dan kurang menggunakan metode Kritik Matan. Ia menawarkan metode Kritik Matan saja.

Ada lagi kelompok yang mempermasalahkan hadis yang berbunyi “Tidak ada seorangpun yang akan tetap hidup di atas bumi setelah seratus tahun ini”. Hadis ini dinilai maudhu’ karena bertentangan dengan al-Qur’an dan kenyataan. Hadis ini menurutnya memberi informasi bahwa hari Kiamat akan terjadi satu abad setelah masa kenabian, dan menebak perkara yang gaib tidak bisa dibenarkan.

Ternyata sang pengkritik kurang teliti. Maksud sebenarnya hadis itu adalah informasi tentang usia para sahabat waktu itu, yang tidak akan hidup lebih dari seratus tahun lagi. Bukan menginformasikan tentang usia dunia, sebagaimana yang mereka pahami. Dalam kitab-kitab karangan ulama’ salaf pun belum pernah ditemukan keterangan yang menjelaskan adanya hadis dhaif  di kitab al-Bukhari. Mereka yang mengkritik hadis al-Bukhari ini adalah datang belakangan serta menyalahi Ijma’ ulama salaf.

Golongan Syi’ah, termasuk kelompok pengkiritik. Mereka  banyak mendiskualifikasi hadis Bukhari, karena tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait. Syi’ah menerapkan standar ganda dalam menerima hadis. Mereka menerima hadis-hadis yang tidak bertentangan dengan ajaran mereka dan hanya menerima hadis riwayat Ahlul Bait.

Bahkan pengertian hadis menurut Syi’ah berbeda dengan hadis menurut Ahlus Sunnah. Hadis, menurut Syi’ah adalah segala ucapan para Imam yang dua belas. Akibat metode yang mereka terapkan, maka sangat sedikit hadis Bukhari yang mereka terima. Metodologi yang digunakan Syi’ah ini tidak dikenal oleh para Ulama’ dan tidak teruji validitasnya.

Sementara kalangan liberal mengkritik dengan alasan bahwa al-Bukhari adalah seorang manusia biasa yang dimungkinkan untuk melakukan kesalahan. Yang perlu ditanyakan dalam masalah ini adalah sudah terbuktikah – secara ilmiah – al-Bukhari melakukan kesalahan sehingga beliau memasukkan hadis dhaif dalam kitabnya? Tuduhan ini hingga kini belum terbukti dan diakui pakar hadis. Serangan ini seperti hujatan Robert Morey yang hanya berlandaskan asumsi dan tafsir kebencian bukan bukti.

Adalah benar, Imam al-Bukhari adalah manusia biasa, tetapi kepakarannya, ketelitian dan keunggulan metodologinya telah meyakinkan para kritikus hadis dan ulama ahli hadis bahwa kitab al-Jami’ al-Shahih tidak diragukan lagi keshahihannya. Al-Bukhari sangat ketat dan hati-hati ketika menulis hadis. Beliau menulis kitab dalam waktu 16 tahun. Selama itu, setiap hendak menulis satu hadis beliau selalu mandi, berwudhu dan shalat  sunnah dua rakaat.

Adapun kemungkinan al-Bukhari melakukan kesalahan adalah perkara yang bisa saja terjadi dan wajar. Akan tetapi, hingga kini mulai dari para pendahulu ahli hadis sampai para kritikus hadis kontemporer, belum seorangpun dari mereka yang mampu  mengungkapkan kesalahan al-Bukhari dengan disertai bukti-bukti ilmiah.

Metode Terbaik

Metodologi al-Bukhari diakui oleh para ulama’ memiliki metode yang terbaik. Seorang perawi secara ketat diriset secara langsung, kepribadiannya. Ia tidak puas jika hanya melalui perantara atau khabar dari orang tertentu. Hal itu dapat dilakukan baik dengan cara melihat langsung maupun menyimak dan hidup pada masa mereka. Sifat, tindak-tanduk serta budi pekerti seorang perawi dinilai apakah sudah menjalan ajaran Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam.

Metode riwayat ini adalah metode ilmiah untuk mencapai suatu kebenaran, dan ia adalah satu-satunya cara untuk menghubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang tidak bisa kita ketahui secara langsung. Bahkan riwayat adalah cara yang terpenting untuk penyebaran ilmu di kalangan masyarakat.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam  sering menganjurkan kepada para sahabat yang hadir di hadapan beliau agar tidak segan-segan untuk menyampaikan apa yang mereka dengar dari beliau kepada orang yang tidak hadir ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, secara jujur, tanpa ditambah dan dikurangi. Oleh karena itu, para sahabat yang tidak hadir pada waktu itu percaya dan berpegang pada apa yang diceritakan oleh sahabat lainnya yang hadir. Metode inilah yang terus dijaga terus oleh para ulama’ ahli hadis termasuk al-Bukhari.

Mereka tidak akan mengambil riwayat kecuali dari orang yang dia kenal; bahwa dia tidak pernah bohong serta kuat hafalannya. Andaikata mereka belum mengenal perawinya, mereka tidak akan menerima hadis yang diriwayatkannya.

Oleh sebab itu, dalam penentuan keshahihan hadis, al-Bukhari dikenal lebih ketat dibanding ulama’ hadis lainnya. Menurut al-Bukhari syarat keshahihan sebuah hadis adalah; pertama, perawi harus ‘adil, dhabit, tsiqah dan tidak mudallis (berbohong). Yang dimaksud ‘adil adalah sang perawi berakidah benar, melaksanakan apa yang diperintah syari’at dan menjauhi semua larangan, bersikap wara’, bertakwa kepada Allah dan berakhlaq mulia. Sedang dhabit adalah mempunyai kesempurnaan berpikir, tidak pelupa dan cerdas serta tangkas. Hafalannya kuat dan mudah mengerti apa yang diterima.

Kedua, sanadnya muttashil (bersambung) tidak mursal, dan munqathi’. Ketiga, matan hadis tidak janggal dan tidak cacat. Nah dalam menilai muttashil dan tidaknya inilah yang membedakan dengan ulama yang lain. Menurut Al-Bukhari, yang dimaksud hadis itu bersambung adalah bila seorang perawi tidak saja hidup sezaman tetapi harus bertemu langsung.

Selain itu dalam tingkatan perawi (tabaqat al-ruwwat), al-Bukhari selalu mengambil tingkatan pertama atau tingkatan tertinggi. Sehingga perawi-perawi yang dhaif tidak dikenal dalam hadis Bukhari. Hal ini kemudian diteliti oleh para ulama’ dan terbukti keshahihannya bahkan diakui bahwa metodenya adalah paling unggul dibanding dengan metode ulama hadis lainnya.

Imam Nawawi dalam “Syarah Shahih Muslim” menegaskan bahwa, mayoritas  ulama telah Ijma’ (sepakat) bahwa hadis- hadis dalam al-Jami’ al-Saghir semuanya adalah shahih, tidak ada yang dhaif atau maudhu’.

Imam al-Bukhari pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya: kitab Shahih Bukhari)?” Beliau menjawab, ”Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab yang saya susun itu sedikitpun tidak ada yang samar bagi saya”.

Allah telah menganugerahkan kepada Imam al-Bukhari berupa reputasi di bidang hadis telah mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika para ulama dan para imam yang hidup sezaman dengannya memberikan pujian (rekomendasi) terhadap beliau. Bukan karena mereka fanatik, tapi mengakui kepakarannya yang tak tertandingi. []

Penulis adalah peneliti InPAS Surabaya

 

BACA JUGA  Sepenggal Percakapan Antara Haji Agus Salim dan Sutan Takdir Alisjahbana
No Response

Leave a reply "Al-Bukhari, Paling Unggul di Tengah Kritik"