Aktivis Dakwah, Bergurulah ke Sejarah!

Written by | Pemikiran Islam

hasyim asyari dan ahmad dahlan
Oleh: Anwar Djaelani
Inpasonline.com-Bagi sebagian, sejarah tak menarik karena hanya berkisah tentang masa lalu. Itu, kata mereka, tak terkait dengan persoalan masa kini dan apalagi masa depan. Benarkah sikap ini, terlebih jika juga menghinggapi aktivis dakwah?
Dua Teladan
Islam meminta kita memelajari sejarah: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (QS Yusuf [12]: 111).
Jika ingin jaya (bahagia), bertaqwalah kepada Allah (baca QS Al-A’raf [7]: 96). Jika ingin menjadi yang terbaik, beramarmakruf-nahimunkarlah. _“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”_  (QS Ali ‘Imraan [3]: 110).
Mari kita belajar kepada KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah. Cermatilah kalimat Dahlan –yang lahir pada 1868- ini: “Jika kamu berhalangan untuk bertabligh, janganlah permisi kepadaku. Tapi, permisilah kepada Tuhan dengan mengemukakan alasanmu. Setelah itu, kamu (harus) bertanggung-jawab atas perbuatanmu.”
Saat berusia tujuh tahun Darwisy –nama asli Dahlan- belajar di pesantren. Lalu, pada 1883 –usia 15 tahun- dia ke Mekkah, berhaji sekaligus belajar selama lima tahun.
Pada 1888 Darwisy pulang. Lalu, pada 1902 Dahlan ke Tanah Suci lagi, berhaji dan belajar. Dia lebih dalami pemikiran Muhammad Abduh, pembaharu Islam ternama di masa itu.
Suatu ketika Dahlan membaca masyarakat, bahwa: “Kemunduran Islam di Indonesia berasal dari masyarakat sendiri. Ajaran lama masih kuat dianut. Bercampur-baur dengan kepercayaan lainnya, sehingga ajaran Islam yang murni menjadi pudar dan kabur”. Lalu, pada 18/11/2012 Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Muhammadiyah berarti umat Nabi Muhammad Saw, bergerak di bidang agama, pendidikan, dan sosial.
Setelah itu, gerakan di bidang sosialnya diperluas. Balai Kesehatan, Rumah Sakit, Panti Asuhan, sekolah, madrasah, diusahakan terus dibangun serta dibiayai dari dana yang berasal dari zakat, infaq, dan sumber-sumber halal lainnya.
Dahlan pandai memberi semangat. Kata Dahlan: “Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama dengan menyumbangkan jiwamu. Jiwamu tak usah kamu tawarkan. Kalau Tuhan menghendakinya, entah dengan jalan sakit atau tidak, tentu kamu akan mati. Tapi, beranikah kamu menawarkan harta-bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini. Umat Islam dan Muhammadiyah sangat membutuhkan uluran tangan dari demawan Islam untuk memajukan perkembagan umat Islam.”
Di saat awal berdirinya Muhammadiyah tak sedikit tantangannya, baik dari keluarga sendiri dan masyarakat. Muncul berbagai tuduhan dan fitnah seperti sebutan “Kiai palsu” atau “Mengajarkan agama baru”.
Dalam memimpin, Dahlan tak hanya pandai mengomando tapi juga langsung terjun ke lapangan. Alhasil, dia dikenal sebagai pekerja keras dan tak kenal lelah. Dahlan sanggup membaca situasi: “Umat Islam telah merosot moralnya sehingga sudah tak mempunyai keberanian seperti harimau, tapi hanya mempunyai semangat seperti kambing”.
Kini, tugas kita adalah meneruskan perjuangan KH Ahmad Dahlan yang meninggal pada 23/02/1923. Sebelumnya, mari menunduk, lalu “jawab” tantangan beliau ini: “Tidak mungkin Islam lenyap dari seluruh dunia, tapi tidak mustahil hapus dari bumi Indonesia.”
Sekarang, mari belajar kepada KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Dia lahir pada 14/02/l871 di Jombang. Pada usia 15 tahun, belajar di sejumlah pesantren seperti di Wonorejo Jombang, Wonokoyo Probolinggo, Langitan Tuban, dan Trenggilis Surabaya. Juga, ke Bangkalan dan Siwalan Sidoarjo.
Pada 1892 Hasyim ke Mekkah, berhaji dan belajar. Pada 1899, Hasyim mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang. Kecuali aktif mengajar, berdakwah, dan berjuang (bersama rakyat turut untuk kemerdekaan Indonesia), Hasyim juga produktif menulis.
Karya Hasyim –mendekati dua puluh judul- banyak yang merupakan jawaban atas berbagai problematika masyarakat. Misal, ketika umat Islam banyak yang belum faham persoalan tauhid atau aqidah, Hasyim menyusun Al-Qalaid fi Bayani ma Yajib min al-Aqaid, Ar-Risalah al-Tauhidiyah, Risalah Ahli Sunnah wa al-Jama’ah, Al-Risalah fi al-Tasawwuf, dan lain sebagainya.
Ada juga kitab At-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Situs www.tebuireng.net memberi catatan, bahwa buku ini berupa: “Peringatan-peringatan wajib bagi penyelenggara kegiatan maulid yang dicampuri dengan kemungkaran. Ditulis berdasarkan kejadian yang pernah dilihat pada malam Senin, 25 Rabi’ al-Awwal 1355 H, saat para santri di sebuah pesantren sedang merayakan Maulid Nabi yang diiringi dengan perbuatan munkar, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, permainan yang menyerupai judi, senda-gurau, dan lain-lain.
Masih menurut situs yang sama, Hasyim juga sering menjadi kolumnis di berbagai majalah, seperti Majalah Nahdhatul Ulama, Panji Masyarakat, dan Swara Nahdhotoel Oelama’.
Pada 31/01/1926 Hasyim mendirikan NU (Nahdlatul Ulama), sebagai media perjuangan yang berdasarkan mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hasyim berkehendak menerapkan syariat Islam.
Bagaimana sikap Hasyim jika dihubungkan dengan persoalan-persoalan kekinian? Dalam aspek keyakinan, Hasyim mewanti-wanti warga NU agar menjaga basic-faith dengan kokoh. Di Muktamar NU ke-11, pada 09/06/1936, Hasyim menyampaikan nasihat-nasihat penting, misalnya, ajakan untuk bersatu merapatkan diri melakukan pembelaan saat ajaran Islam dinodai. “Belalah agama Islam. Berjihadlah terhadap orang yang melecehkan Al-Qur’an dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kasih, juga terhadap penganut ilmu-ilmu bathil dan akidah-akidah sesat” (Kholili Hasib, www.hidayatullah.com 22/04/2010).
Tampak, Hasyim gigih memerjuangkan Syariat Islam. Tugas kita, melanjutkan perjuangan KH Hasyim Asy’ari yang wafat pada 25/07/1947 dan telah mewariskan banyak hal.
Baca dan Warisi
Alhasil, agar menjadi generasi pejuang, antara lain bacalah tokoh teladan penegak dakwah. “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim” (QS Asy-Syuaraa’ [26]: 69). Dalam kaitan dengan Indonesia, antara lain bacalah riwayat KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari yang keduanya pernah belajar di guru yang sama yaitu KH Shaleh Darat Semarang. []
BACA JUGA  Izzuddin Abdissalam, Mulya dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Last modified: 08/11/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *