Agus Salim dan Hikmah Menginteli SI

No comment 1772 views

 Oleh: Anwar Djaelani

agus salimInpasonline.com-Mengikuti riwayat Agus Salim, kita akan semakin memahami bahwa hidup itu bisa saja ‘berkelok’. Bahwa, seseorang bisa berkelok dari ‘jauh’ ke ‘dekat’ dalam hal pemahaman dan praktik keagamaan. Seseorang dapat ‘berkelok’ dari ‘warga biasa’ ke ‘aktivis pergerakan Islam’.

 Berkah Penugasan

Agus Salim lahir pada 08/10/1884 di Kotagadang Bukittinggi Sumatera Barat. Dia berasal dari keluarga priyayi. Ayahnya, Sutan Muhammad Salim, seorang Jaksa Tinggi di Pengadilan Tinggi Riau. Jabatan si ayah tergolong prestisius bagi pribumi di ketika itu. Maka, atas dasar status sosial ini Agus Salim diterima di ‘SD Belanda’, sesuatu yang mestinya hanya diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Eropa.

Sejak di SD dia menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata, baik untuk pelajaran berhitung maupun sejarah dan bahasa. Setelah lulus SD pada 1897, dia ke Jakarta untuk belajar di HBS, suatu sekolah yang mestinya juga untuk anak-anak keturunan Eropa.

Ketika di SMP -pada 1903- dia menjadi juara umum tingkat HBS se-Hindia Belanda. Ketika itu di seluruh Hindia Belanda hanya terdapat tiga buah HBS, masing-masing di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. (Catatan: HBS singkatan dari Hogere Burger School, sekolah menengah orang Belanda, Eropa, dan elit pribumi. HBS itu gabungan SMP+SMA dengan masa belajar 5 tahun).

Terkait Agus Salim semasa di HBS, ada catatan ‘menarik’. Kala itu, Agus Salim kos di rumah orang Belanda. Di saat-saat itulah Agus Salim terpengaruh dengan gaya hidup si Tuan Rumah. Bisa dibilang, ketika itu dia jauh dari Islam.

Setelah lulus HBS dia ingin meneruskan ke Perguruan Tinggi di Belanda untuk jurusan Kedokteran. Tapi, dia sadar bahwa biaya untuk itu terlalu tinggi. Sementara, si ayah tak cukup mampu.

BACA JUGA  Syaikh Yusuf al-Nabhani, Karyanya Dipersembahkan untuk Rasulullah Saw

Sebagai jalan keluar, dia mengajukan permohonan untuk mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda. Namun, permohonan itu ditolak karena adanya diskriminasi, bahwa tak ada beasiswa untuk keturunan pribumi.

Setelah permohonan beasiswanya ditolak, pada Oktober 1906 -di usia 22 tahun- Agus Salim menerima tawaran untuk menjadi pegawai Konsulat Belanda di Jeddah Saudi-Arabia. Keberangkatannya ke Jeddah sebagai pegawai Konsulat Belanda sesungguhnya lebih didasarkan kepada pertimbangan menuruti usulan keluarga. Dia sendiri pada dasarnya berkeberatan. Sikap tak seberapa suka itu ditunjukkannya karena di samping kecewa terhadap cita- citanya (menjadi dokter) yang terjegal, juga karena dalam dirinya telah tumbuh benih sikap anti-Belanda.

Sementara, keluarga Agus Salim mempunyai pertimbangan lain. Bagi mereka, menerima tawaran kerja sebagai pegawai Konsulat Belanda di Jeddah, punya prestise yang cukup tinggi. Kecuali itu ada alasan lain yaitu amaliyah keagamaan Agus Salim dinilai kendor. Hal itu mulai terjadi saat dia belajar di HBS. Maka, dengan bekerja di Saudi-Arabia, diharapkan Agus Salim dapat menambah pelajaran agamanya kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang mukim di Mekkah. Di sana, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi -yang masih kerabat dekat Agus Salim- menduduki jabatan sebagai Imam dan Guru Besar di Masjid Al-Haram.

Selama bekerja di Konsulat Belanda, 1906-1911, Agus Salim selain banyak membantu Jamaah Haji Indonesia, juga bisa memerdalam agama terutama kepada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Kecerdasan yang telah diperlihatkannya sejak kecil sangat membantunya dalam memahami pengetahuan agama. Akibatnya, dalam waktu relatif singkat, tidak hanya pengetahuan agamanya saja yang mulai mendalam tapi juga penghayatannya.

Pada Desember 1911, tugasnya di Jeddah berakhir dan dia lalu kembali ke Tanah Air. Pada 1915 Agus Salim mukim di Jakarta. Dia bekerja pada pemerintah Hindia Belanda sebagai penyelidik. Sebagai seorang penyelidik, Agus Salim ditugasi untuk menyelidiki apakah Syarikat Islam (SI) yang dipimpin HOS Tjokroaminoto -yang kala itu mengadakan muktamar- akan melakukan pemberontakan kepada Pemerintah Hindia Belanda.

BACA JUGA  Tentang ‘Pesona’ Ustadz Muda di Televisi

Saat itu, memang hanya Syarikat Islam-lah yang potensial untuk melakukan pemberontakan. Maka Salim-pun dikirim untuk memata-matai. Tapi, setelah dia bertemu HOS Tjokroaminoto dan mendalami apa itu Syarikat Islam, Agus Salim malah terpikat hatinya kepada organisasi itu.

Perkembangan berikutnya, Agus Salim mengirim pemberitahuan resmi kepada atasannya, bahwa dia mengundurkan diri dari tugas yang diberikan kepadanya. Dengan terus-terang dia katakan bahwa hatinya terpikat dengan visi dan misi Syarikat Islam. Dia-pun keluar dari posisi sebagai penyelidik.

Sejak itu, 1915, Agus Salim mulai masuk ke dunia pergerakan nasional melalui Syarikat Islam. Di lembaga ini, dia bersama HOS Tjokroamito dan kawan-kawan memperjuangkan nasib bangsa yang mayoritas beragama Islam. Melalui Syarikat Islam pula dia memulai karir di bidang politik, intelektual, dan keagamaan. Pasca-kemerdekaan, Agus Salim masuk Partai Masyumi.

Sejumlah jabatan pernah diamanahkan kepadanya, seperti Menteri Muda Luar Negera dalam Kabinet Syahrir II dan III, 1946-1947. Lalu, Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Amir Syarifuddin, 1947. Kemudian, Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta I dan II, 1948 dan 1949. Sementara, dalam bidang intelektual dan keagamaan, sejak Januari – Juni 1953 dia menjadi dosen tamu di Cornel University di AS untuk kajian tentang “Pergerakan dan Cita Islam Indonesia”.

Bagaiman keluarga Agus Salim? Pada 12/08/1912 dia menikah. Putranya sepuluh, tiga di antaranya meninggal. Sisanya, dia didik sendiri tanpa disekolahkan secara formal. Hal itu menunjukkan sebuah sikap anti-Belanda yang kuat melekat pada diri Agus Salim sejak mengerti arti diskriminasi yang dipraktikkan Belanda.

Untuk itu, dia tak mau melihat anak-anaknya yang sebagai keturunan pribumi diperlakukan diskriminatif di sekolah–sekolah Belanda. Cukup dia saja yang menelan kepahitan seperti itu. Di kemudian hari, ternyata, kemampuan anak-anak Agus Salim sama sekali tak tertinggal jika dibandingkan dengan mereka yang belajar di sekolah.

BACA JUGA  Puasa dan Pembangunan Insan Beradab

Akan Terkenang

Agus Salim wafat pada 04/11/1954. Rasanya, masih banyak orang yang akan sering mengenangnya. Bahwa, di ketika masih hidup, rumahnya tak pernah sepi dari tamu-tamu yang berasal dari kalangan aktivis pergerakan Islam. []

No Response

Leave a reply "Agus Salim dan Hikmah Menginteli SI"