Abdullah Said, Suka Membaca dan Berburu Buku

Written by | Sejarah Peradaban

Abdullah Said1

Oleh: Anwar Djaelani

Abdullah Said1Inpasonline.com-Abdullah Said mendirikan Hidayatullah pada 1973. Sejak itu, Hidayatullah -sebagai gerakan Islam- tumbuh cepat. Pada Juni 2009, terbit buku “Mencetak Kader; Perjalanan Hidup Ustadz Abdullah Said Pendiri Hidayatullah”. Di situ, kita bisa menemukan sebagian rahasia suksesnya.

Pembaca Sejati

Abdullah Said (AS) lahir 17/08/1945 di Sinjai, Sulawesi Selatan. Pada 1954, AS pindah ke Makassar. Dia selesaikan SD dengan nilai tertinggi yang memungkinkannya bisa memilih sekolah lanjutan favorit. Dia memilih Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) dengan masa studi 6 tahun yang siswanya mendapat beasiswa.

AS lulus PGAN juga dengan nilai tinggi, sehingga mendapat beasiswa ke IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Alauddin Makassar. Hanya setahun kuliah, AS lalu berhenti karena merasa tak mendapat tambahan ilmu. Semua materi kuliah telah dibaca AS.

Pada 07/01/1973, AS mendirikan Hidayatullah dalam bentuk sebuah pesantren, di Balikpapan. Gerakan itu dengan cepat menyebar ke berbagai pelosok Indonesia. Ratusan cabang Hidayatullah telah berdiri. Lalu, melalui Musyawarah Nasional I pada 9–13 Juli 2000 di Balikpapan, Hidayatullah dideklarasikan sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas).

Banyak hal menarik dalam pribadi AS, antara lain kegemarannya membaca. Sejak kanak-kanak, membaca adalah hobi beratnya dan terutama tampak menonjol saat di PGAN Makassar. Kesukaan membaca dan mengoleksi buku tentu membutuhkan biaya. AS beruntung karena –kala itu- dia mendapat beasiswa yang setiap bulan hampir tidak ada yang tersisa, semua dibelikan buku.

Jika tidak ada acara, tiap Ahad atau hari libur lainnya dia gunakan berwisata ke toko buku. Sejumlah toko buku di Makassar menjadi langganannya. Dia sedih jika ada buku yang diinginkannya, tapi saat itu uang di kantongnya tak cukup. Biasanya, dia lalu melobi penjaga toko agar buku yang diincarnya disisihkan sebuah. Dia berjanji, sesegera mungkin akan membelinya. Karena para karyawan toko itu telah mengenalnya sebagai si ‘kutu buku’, mereka tak berkeberatan.

BACA JUGA  Jihad Ilmu di Era Global

Ketika di kemudian hari AS dikenal sebagai muballigh muda yang cukup populer, kesukaannya membaca semakin kuat. Sebagian besar pendapatannya habis untuk belanja buku.

Dulu, di Balikpapan, hanya ada satu toko buku -terletak tak jauh dari Sekretariat Hidayatullah Karang Bugis- dan menjadi langganan AS. Sang pemilik toko merasa diuntungkan karena AS lebih dari sekadar pelanggan setia. Sebab, saat berceramah, AS kerap menunjukkan buku referensinya dan di mana membelinya. Akibatnya, buku yang dimaksud cepat habis di toko tersebut.

Jamaah pengajian AS tak hanya ‘orang Hidayatullah’ saja, tapi dari kalangan yang beragam seperti dari Pertamina, perusahaan-perusahan asing, dan lain-lain. Jika sedang ada acara di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, atau Surabaya, mereka –para jamaah itu- menawarkan jasa kepada AS barangkali mau titip untuk dibelikan buku-buku yang diperlukannya. AS-pun, jika sedang berkunjung ke Jawa, setiap selesai tugas utamanya sebagai pemimpin Hidayatullah, akan menyempatkan diri ke toko buku.

AS adalah pembaca yang tekun. Setelah memimpin Hidayatullah, dia semakin tekun membaca. Setiap hari dia membaca tiga koran terbitan Jakarta dan dua koran lokal (Balikpapan). Sementara, untuk media berkala dia membaca setidaknya sembilan majalah.

Buku-buku baru yang diiklankan di media dan dianggapnya penting, langsung dia cari. Tulisan-tulisan menarik diklipingnya. Singkat kata, kapan dan di manapun, dia sempatkan membaca. Maka, tak heran, jika di mobilnya penuh buku, koran, dan majalah.

Buku bertema apa yang dibacanya? Beragam! Tak hanya keislaman, tapi juga –antara lain- managemen, jurnalistik, dan pengembangan diri. Untuk yang disebut terakhir, koleksinya termasuk karya-karya Dale Carnegie, Stephen R. Covey, dan lain-lain. Karya John Naisbitt dan Alvin Toffler ada juga di perpustakaannya.

BACA JUGA  FPI, HAMKA, dan “Syarat Terbaik”

Waktu favorit AS untuk membaca adalah usai melakukan shalat lail. Di banyak halaman buku-buku yang dibacanya penuh catatan di pinggirnya, berupa komentar dan –jika perlu- kritik dia. Untuk hal-hal yang penting, dia garis-bawahi. Dia terbiasa membaca buku sambil menulis di komputer.

Siapa yang memengaruhi AS sehingga sangat suka membaca? Salah satunya adalah KH Abdul Ghaffar Ismail. Ulama yang lahir di Bukittinggi dan wafat di Pekalongan itu sangat memberinya motivasi, yaitu lewat ungkapan: “Muballigh yang malas membaca adalah muballigh tai kucing”.

Bacaan AS yang kaya membuat ceramah serta tulisannya sangat menarik dan disenangi banyak pihak lantaran tajam dan aktual. Tulisan-tulisan dia yang dimuat majalah ‘Suara Hidayatullah’ di rubrik Kajian Utama adalah salah satu contohnya.

Betapa gigihnya AS dalam berburu buku, ilustrasi berikut kiranya cukup mewakili. Pada 1967, Indonesia baru saja lepas dari tirani Orde Lama. Saat itu terbit buku karya KH Isa Anshari (tokoh Masyumi yang lahir pada 1916 dan wafat 1969). Dia dikenal sebagai singa podium dan merupakan salah satu idola AS.

Buku itu berisi seputar Orde Baru: apa ciri-cirinya, siapa yang terkategori Orde Lama dan siapa pula yang Orde Baru. AS sangat ingin membelinya. Sayang –di saat itu- uangnya tak cukup. Lalu, seperti biasa, diapun mendekati penjaga toko dan memohon agar buku –yang stoknya terbatas itu- disisakan satu untuknya. Dia berjanji, sesegera mungkin membelinya begitu ada uang.

Dia berpikir keras, untuk mendapatkan uang. Dia khawatir, buku bagus itu habis. Ide muncul. AS menemui kawannya yang bertugas mengatur jadwal ceramah muballigh Muhammadiyah. AS meminta –jika ada jadwal kosong karena sang penceramah berhalangan- kesempatan itu diberikan kepadanya.

BACA JUGA  Ekspansi Syiah, Intoleransi dan Dilema Solusi Damai

Teman yang sudah mengenal karakter AS itu, meluluskannya. Caranya? Si teman merelakan jadwal ceramahnya hari itu untuk diisi AS. Usai berceramah, dengan mengantongi sejumlah rupiah hak dia sebagai penceramah, bergegaslah AS ke toko buku untuk membeli buku yang diimpi-impikannya.

Siapa Ikut

Abdullah Said wafat pada 1998. Jejaknya cukup banyak yang bisa kita ikuti dalam meraih sukses, terutama di dunia dakwah. Mari, sebagaimana dia, bacalah sebanyak mungkin buku! InsyaAllah, kita akan sukses dan bahagia. []

Last modified: 02/03/2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *